Two Pillars of Trust

Romy RafaelKetika mendengar kata Hipnotis, apa yang ada di pikiran Anda?

Tipu-tipu, sihir, magic, bantuan jin? Banyak orang menganggap hipnotis sesuatu yang bersifat magic, klenik, atau bantuan jin. Tetapi sisi yang berbeda saya temukan ketika mengikuti pelatihan hipnotis & hipnoterapi. Bahkan salah satu sahabat saya, Hari Dewanto, seorang pakar hipnotis, mengatakan bahwa “orang bilang ini magic karena mereka tidak tau caranya. Ini ilmiah sekali. Siapapun bisa belajar dengan cepat. Ini akan jadi seperti magic, kalau mereka tidak tahu caranya”. Menarik sekali rekan-rekan, akan terlihat seperti magic kalau kita tidak tau caranya.

Persis sekali dengan kepemimpinan. Meskipun ini hal yang umum, tetapi banyak orang masih belum tau bagaimana memimpin secara efektif. Kalau ada pemimpin yang bagus, orang sering bilang, itu memang bakat dia, cuma dia yang bisa begitu. Saya baca berita di kompas online tentang Recep Tayyip Erdogan (Presiden Turki). Waktu itu ia berhasil mempersuasi salah satu warga negaranya untuk tidak jadi bunuh diri. Uniknya, ada yang berkomentar “bapak ini menguasai ilmu sugesti pikiran yang sangat kuat”.

Memang menjadi pemimpin yang efektif tidaklah mudah. Hasil survey yang dilakukan MSN.com menunjukkan bahwa 42% manager (orang yang diangkat untuk memimpin tim tertentu) gagal dalam 18 bulan. Gagal disini dalam artian dia tidak capai target, atau tidak ada kemajuan berarti sesuai yang diharapkan, atau tidak bisa memenuhi job descriptionnya. Dari 42% ini, 82% nya gagal salah satunya karena tidak mampu membangun kepercayaan dari tim.

Di sini bisa kita lihat bahwa pemimpin yang efektif harus mampu membangun trust, keyakinan bahwa dia dapat diandalkan, dari anggota tim atau partner kerjanya. Jadi, kalau Anda ingin lebih efektif sebagai pemimpin, Anda harus mampu membangun trust sebagai dasar kepemimpin Anda.

Pusta Hery Kurnia - Trust

Ada dua pilar utama dalam membangun trust.

Yang pertama adalah kompetensi. Orang akan percaya dengan Anda, jika Anda mampu menunjukkan bahwa Anda kompeten di bidang Anda. Anda mampu menjadi pemberi solusi dan menyelesaikan masalah. Salah satu pemimpin yang dipercaya karena kompetensinya adalah Ignasius Jonan. Tahun 2008, ia dipercaya menjabat sebagai direktur utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Waktu itu, KAI merugi 80M, pelayanan konsumen sangat buruk, jadwal kereta api sering telat, punya tiket tapi tidak dapat tempat duduk dalam gerbong, stasiun banyak copet, dll. Dengan perjuangan Jonan mengalihkan fokus pelayanan pada konsumen, menciptakan system jadwal kereta on time, penjualan tiket sesuai jumlah kursi, membentuk polsuska untuk keamanan stasiun dan kereta, dll. Hasilnya? Di tahun 2013, KAI meraup untung 460M! Peningkatan lebih dari 5 kali lipat! Sekarang, KAI menjadi salah satu perusahaan terdepan di Indonesia. Karena kemampuannya mengangkat KAI, Jonan pun dipercaya menjadi Menteri Perhubungan Presiden Jokowi. Jadi, pilar dipercaya yang pertama adalah Anda harus punya kompetensi di bidang Anda.

Yang kedua adalah relasi. Kalau ada orang asing, tiba-tiba datang ke Anda dan pinjam HP, apakah Anda akan memberikannya? Kemungkinan besar tidak. Tetapi kalau yang pinjam HP adalah orang tua Anda, anda akan berikan? Pasti. Bedanya dimana? Relasi. Tingkat kedekatan Anda dengan seseorang menentukan level trust Anda dengan dia. Jika Anda ahli membangun relasi, Anda juga akan cenderung lebih mudah memperoleh trust. Salah satu sahabat saya, Sufriyadi, seorang asisten manajer di perusahaan kelapa sawit. Suatu ketika Ia terlibat perdebatan dengan seorang petani. Petani tersebut memaksa untuk memasukkan buah dibawah standar. Sufri dengan tegas menolak. Petani naik pitam dan mengalungkan parang ke leher Sufri, mengancam akan membunuh. Sufri memandang petani itu dan mengatakan “Bapak bunuh saya, urusan kita belum tentu selesai. Akan ada keluarga dan perusahaan yang cari bapak. Saya hanya menjalankan amanah perusahaan. Kalau saya ijinkan, saya salah, bapak juga salah. Tenang dulu pak. Turunkan dulu parangnya.” Singkat cerita, Sufri berhasil meyakinkan petani. Nah ini yang menarik. Malamnya, Sufri datang ke rumah petani tersebut sambil membawa gula dan kopi. Sambil minum kopi, Sufri berkata “Pak, saya mohon maaf untuk kejadian tadi siang. Saya hanya menjalankan tugas. Bapak pasti paham posisi saya. Justru karena saya peduli dengan bapak saya harus tegas. Sekali lagi saya mohon maaf pak.”. Jadi, pilar ke dua dari trust adalah Anda harus ahli membangun relasi.

Sahabat, kedua pilar ini kompetensi dan relasi, harus Anda kembangkan dengan baik. Trust yang Anda dapat tidak akan maksimal hanya dengan kompetensi atau relasi saja. Harus kedua-duanya. Jika Anda benar-benar menguasai bidang Anda dan mampu menjalin relasi yang baik, Anda akan mudah sekali memperoleh trust. Dan dengan trust ini Anda akan jauh lebih efektif sebagai pemimpin.

Advertisements

A Habit for Positive Mindset

Gates reading book

Menurut Anda, mana yang lebih berkualitas, sepatu buatan Indonesia atau amerika? Baju buatan Indonesia atau Eropa? Printer buatan Indonesia atau Jepang?

Sangat sedikit orang yang menjawab sepatu, baju, atau printer buatan Indonesia punya kualitas yang lebih baik. Padahal, semua barang-barang tersebut diproduksi di Indonesia. Sepatu ada di Bandung, Karawang, atau Subang. Baju di Bandung. Produksi printer di Cikarang. Dengan kata lain, orang Indonesia mampu menghasilkan barang dengan standar kualitas tinggi sehingga bisa dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan asing amerika, Eropa atau jepang. Kualitas Indonesia tidak kalah dari kualitas negara lain, bahkan lebih baik.

Pertanyaanya, mengapa umumnya kita akan menilai kualitas barang Indonesia lebih jelek dibanding negara lain? Mengapa?

Salah satunya karena alam bawah sadar kita mengatakan bahwa kita, Indonesia inferior, bukan siapa-siapa. Kalau disuruh memilih antara pemenang dan pecundang, kita akan jauh lebih mudah untuk mengatakan bahwa Indonesia bukan pemenang. Dengan kata lain kita lebih setuju bahwa Indonesia adalah pecundang. Padahal belum tentu demikian. Pikiran kita, sikap mental kitalah yang membuat kita berpikir demikian. Sikap mental dan pikiran positif sangat menentukan.

Salah satu cara yang sangat powerful adalah dengan punya kebiasaan membaca buku pengembangan diri.

Ada tiga alasan mengapa Anda perlu membaca buku pengembangan diri:

1. Menanamkan pola pikir positif

Ayah saya berusia sekitar 65 tahun. Ia menderita sakit tremor lengan kanan. Sakit ini membuat seolah-olah ada yang salah dengan hidupnya. Ia susah sekali tersenyum. Terlihat stress. Jadi saya belikan buku berjudul Happiness Café. Buku ini menceritakan banyak sekali kisah orang-orang yang cacat, tetapi bisa menikmati hidup dan menginspirasi orang lain. Jessica Cox, menerbangkan pesawat hanya dengan kaki, Nick Vujicic, menaklukan dunia tanpa lengan dan kaki. Ayah saya terlihat asik sekali membacanya, kemudian saya tanya “apa yang menarik dari buku ini?”. Ayah saya bilang “Ternyata banyak yang lebih kurang beruntung dibanding saya. Saya harus lebih berpikir positif”. Lihat, membaca buku yang tepat akan dengan cepat membuat Anda jauh lebih positif.

2. Mengembangkan sikap mental pemenang

Siapa di antara Anda suka pergi ke gym? Body building bertujuan mengembangkan otot tubuh. Semakin sering Anda berlatih, semakin besar otot tubuh Anda. Membaca itu seperti body building. Kalau body building mengembangkan otot tubuh, membaca mengembangkan otot mental Anda. Semakin banyak membaca, semakin kuat otot mental Anda. Membaca buku seperti Berpikir dan Berjiwa Besar, It’s not how good you are, it’s how good you want to be, akan memberikan pemahaman baru bahwa Anda adalah seorang pemenang, Anda diciptakan untuk menang. Jadi ketika Anda menghadapi tantangan Anda punya keyakinan yang tinggi bahwa Anda akan menang menghadapi tantangan.

3. Mempercepat Anda meraih sukses

Thomas Corley meneliti kebiasaan 233 multi milyarder dan 128 poor people. Ternyata 88% orang yang sangat kaya biasa membaca buku minimal 30 menit sehari. Hanya 2% orang miskin yang biasa baca buku. Jelas sekali perbedaanya. Orang kaya tau bahwa Success leaves track. Kalau kita mau berhasil, ikuti saja jejak orang yang sudah berhasil. Dengan mengikuti jejak yang sudah dibuat, siapapun akan lebih cepat sampai. Nah, orang yang sangat sukses banyak meninggalkan jejak-jejak mereka lewat buku dan tulisan. Anda tidak perlu lagi terlalu lama coba dan gagal, tinggal ikuti tips praktis yang sudah disarankan. Ini membuat Anda jauh lebih cepat mencapai keberhasilan.

Charlie Jones, a motivational speaker said “You’ll be the same in five years as you are today, except for the people you meet and the books you read”.

Sahabat, kapan terakhir kali Anda baca buku pengembangan diri? buku apa yang Anda baca sekarang? Seberapa sering Anda memilih untuk membaca buku pengembangan diri ketimbang artikel bola atau berita terbaru detik.com?

Bayangkan jika Anda mulai kebiasaan membaca buku pengembangan diri 15 – 30 menit saja sehari. Betapa positifnya, betapa kuatnya otot mental Anda. Betapa Anda akan jauh lebih berani, lebih yakin saat menghadapi tantangan, lebih cepat menapaki jalur kesuksesan Anda. Dan yang lebih penting lagi, kalau Anda bisa menularkan kebiasaan ini ke saudara-saudara kita orang Indonesia. Suatu nanti kita akan bisa melihat, mendengar, merasakan orang Indonesia dengan tegas berkata “Indonesia is not inferior. Indonesia is a great country”.

Seorang ART Berpredikat Cum Laude dan Mendapat Beasiswa S-2

Pusta Hery Kurnia - Darwati

Lulus kuliah tepat waktu dengan predikat cum laude bukanlah hal yang mudah, untuk mencapainya dibutuhkan perjuangan dan semangat belajar yang tinggi. Pretasi tersebut berhasil diraih oleh Darwati (23), asisten rumah tangga (ART) asal Desa Gunungan RT 002/RW 001, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. 

Terlahir sebagai anak petani boro (petani tanpa lahan) di Kabupaten Blora, kehidupan keluarga Darwati (23) terbilang jauh dari mapan. Namun anak perempuan dari pasangan Sumijan dan Jasmi ini memiliki impian dan tekad kuat untuk menjadi seorang sarjana meski kondisi perekonomian keluarganya terbatas.  Impiannya sangat sederhana, yaitu ingin menaikkan derajat dan memperbaiki hidup kedua orang tuanya.

Setelah lulus dari SMA Muhammadiyah 5 Todanan, Darwati memutuskan merantau ke Jakarta untuk bekerja, namun belum genap seminggu dia kembali pulang ke kampung halaman karena tindak kekerasan. Setelah itu Darwati sempat ikut bekerja berjualan es campur di kampung, namun tidak lama karena dia memutuskan untuk menerima tawaran kerja sebagai ART.

Masih jelas dalam ingatan Darwati tanggal 16 Agustus 2010 adalah awal dia bekerja sebagai ART di rumah Drg. Lely Atasti Bachrudin, di Grobogan. Ketika itu masih belum terbayang bahwa kelak dia bisa mewujudkan impiannya untuk meneruskan pendidikan hingga sarjana. Hingga satu waktu Darwati bergumam mengenai keinginannya untuk kuliah. “Mungkin didengar sama Bapak (majikan), beberapa hari setelah itu, Bapak tiba-tiba bilang saya boleh nyambi kuliah,” ungkapnya. Diceritakan, majikannya kala itu mengatakan jika ayahnya dari desa baru saja menemui sang majikan dan menyampaikan keinginan Darwati berkuliah, dan majikannya ternyata mengizinkan.

“Saya langsung semangat mencari informasi perguruan tinggi sampai akhirnya memilih di Semarang. Saya sisihkan sebagian gaji. Ternyata bapak saya tidak pernah menemui beliau (majikan),” kenangnya.

Setelah berhasil tercatat sebagai mahasiswi jurusan Administrasi Negara di Universitas 17 Agustus Semarang (Untag), Darwati tetap bekerja sebagai ART. Untuk berangkat kuliah, ia harus menempuh jarak kurang lebih 50 kilometer dengan menumpang bus, terkadang menumpang kawannya yang kebetulan berasal dari Grobogan.

“Yang mengejek, ya pasti ada, namun saya anggap angin lalu. Untuk dana, saya sisihkan uang gaji, kadang saya pinjam teman, kadang juga diberi uang saku sama Bapak (majikan),”katanya.

Ejekan dari beberapa temannya justru dijadikan motivasi untuk mendapatkan prestasi yang baik. Setiap malam, Darwati menyempatkan diri untuk belajar, meski sebagian besar waktunya habis untuk bekerja. “Belajarnya kalau pas waktu senggang saja, kadang habis maghrib sambil menunggu bos, jika ada pekerjaan. Kadang (belajar) di atas jam 9 malam agar bisa konsentrasi,” jelasnya.  Tidak jarang juga ketika sang majikan memanggil, dia sedang asyik belajar. Kendati demikian, sang majikan bisa memahami juga apabila Darwati terlambat datang memenuhi panggilan.

Semua usaha dan kerja keras Darwati tidak sia-sia, ia berhasil lulus sebagai salah satu mahasiswi terbaik dengan indeks prestasi 3.68. Keberhasilannya ini tentu membanggakan kedua orang tua dan juga keluarga majikannya. Tidak hanya itu, prestasi Darwati di bidang pendidikan mendapatkan perhatian dari Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir yang menawarkan beasiswa S-2 di Universitas Diponegoro Semarang.

Perjuangan Darwati bisa menjadi contoh, dia berhasil membuktikan bahwa kesuksesan tidak melihat dari mana seseorang berasal. Sukses bisa terwujud selama ada keberanian untuk bermimpi, keinginan yang kuat dan kerja keras pantang menyerah untuk mencapainya.

Luar Biasa!

Sumber: http://www.andriewongso.com

Belajar dari Kebaikan Hati Sopir Angkot

Pusta Hery Kurnia - Sopir Angkot

Kasus kekerasan dan kejahatan yang kerap dilakukan sejumlah sopir angkutan umum mengkhawatirkan penumpang, khususnya perempuan. Yang terbaru, seorang sopir tembak D 01 jurusan Ciputat – Kebayoran Lama, DAS (21) memerkosa NASP (35) di dalam angkot yang dikendarainya.

Namun tidak semua sopir angkot berperilaku jahat seperti DAS. Salah satunya seperti pengalaman yang diceritakan Eko Sulistyono melalui akun Facebook miliknya.

Dalam tulisan yang diunggah pada 16 Juni 2015 tersebut, dia menuliskan sopir angkot yang ditumpanginya menunjukkan perilaku mulia. Sopir yang disebutnya berusia sekitar 25 tahun tersebut dengan hati-hati menurunkan dan membantu menyeberang seorang nenek yang menjadi penumpangnya.

“Sopir itu membimbing ibu tua itu turun, lalu membantu menyeberangkan pelan pelan karena ibu tua itu jalannya tertatih tatih,” tulis Eko.

Eko yang awalnya mengira wanita tua tersebut adalah orangtua dari sang sopir terkejut tatkala mengetahui wanita tersebut adalah penumpang angkot, sama seperti dirinya. Dia mengatakan, sang sopir mengaku sedih melihat orang tua bepergian seorang diri.

“kalau itu ibu saya Pak, nggak bakalan saya biarin pergi-pergi sendiri, kalau jatuh, ketabrak, atau sakit di jalan gimana coba? Saya suka sedih lihat ibu-ibu tua, ngapain sendirian bepergian. Padahal dulu pasti lagi mudanya pergi-pergi anaknya selalu dibawa, dijagain takut anaknya jatuh, diurusin siang malam waktu anaknya sakit… ya gak Pak?” tulis Eko menirukan ucapan sang sopir.

“Iya Pak… Orang kadang nggak ngehargain ibunya. Kalau senang lupa, kalau susah pasti nyari ibunya. Padahal pak, saya ini nggak punya ibu, ibu saya meninggal saat saya masih kecil, saya diasuh orang lain, barangkali kalau saya punya ibu, nasib saya nggak begini… Karena pasti ada ibu yang ngedoain supaya jadi anak yang sukses, orang lain didoain ibunya, belum tentu juga inget dan sadar kalau itu tuh hasil doa sama jerih payah ibunya… yaa nggak Pak?” tulis Eko.

Sejak diunggah 16 Juni 2015, hingga Senin (22/6), tulisan tersebut telah dibagikan lebih dari 1.000 kali dan mendapat 130 tanda ‘like’ dari pengguna Faccebook.

Sumber: http://www.merdeka.com

Wali Kota Surabaya Raih Penghargaan The World Mayor Prize

Setelah sebelumnya mantan Wali Kota Solo, Presiden Joko Widodo, meraih penghargaan serupa di tahun 2012, kini giliran Wali Kota ‘antikompromi’ Tri Rismaharini yang mendapatkan penghargaan The World Mayor Prize.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, nampaknya patut berbangga. Wanita yang terkenal antikompromi dan kontroversial ini mendapatkan penghargaan The World Mayor Prize 2014. Di dalam situs resmi worldmayor.com, wanita yang kerap disapa Risma ini meraih posisi ketiga terbaik dari seluruh Wali Kota di dunia. Risma juga menraih penghargaanThe World Mayor Commendation atas pelayanannya terhadap masyarakat Surabaya.

Wali Kota Surabaya Raih Penghargaan The World Mayor Prize_2015-02-05 09-59-42_Wali_Kota_Surabaya_Raih_Penghargaan_The_World

Penghargaan tersebut diraih berdasarkan analisis dan prestasi yang telah dikerjakan oleh Risma sepanjang tahun 2014 selama menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Perubahan skala besar dilakukan oleh wanita kelahiran Kediri, 20 November 1961 untuk merubah ‘wajah’ Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia.

Risma menjabat sebagai Wali Kota Surabaya sejak memenangkan pemilihan secara langsung di tahun 2010. Perubahan yang paling menarik perhatian masyarakat lokal bahkan internasional adalah mengenai pembangunan dan rekonstruksi tanah-tanah kosong dan terbengkalai untuk dijadikan fasilitas umum yang nyaman.

Risma melihat Surabaya memiliki banyak tanah kosong milik pemerintah yang sia-sia. Ia kemudian mengubah tanah-tanah tersebut menjadi sebuah taman. Kini Surabaya sudah memiliki 11 taman kota dengan tema yang berbeda-beda dan dilengkapi fasilitas seperti akses Wi-Fi gratis, perpustakaan, toilet, dan bahkan alat olahraga. Risma optimis taman-taman ini bisa menjadi fasilitas favorit masyarakat sekaligus sebagai lahan penyerap air untuk mencegah banjir. Terbukti, Kota Surabaya bebas dari banjir meskipun kota-kota lain mengalami banjir.

Kebiasaannya ‘blusukan’ juga menjadi gaya interaksinya, sama seperti kebiasaan Presiden Joko Widodo. “Sebuah kota harusnya menjadi rumah paling aman dan nyaman bagi masyarakatnya. Dengan berinteraksi langsung, saya bisa lebih tahu banyak permasalahan yang sedang terjadi sekaligus mengevaluasi kerja orang-orang saya,” ujar Risma.

Luar Biasa!

Source: http://www.andriewongso.com

Hal Baru dari Kabinet Kerja Jokowi

Akhirnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan kabinetnya pada 26 Oktober 2014 sore yang diberi nama Kabinet Kerja. Ada yang mengatakan pengumuman itu terlambat. Tetapi jika mengikuti Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, pengumuman itu masih dalam bingkai aturan. Menurut UU tersebut, pembentukan kementerian  paling lambat 14 hari kerja sejak Presiden mengucapkan sumpah (janji). Sedangkan Jokowi mengumumkan kabinetnya enam hari setelah pelantikannya.

Pusta Hery Kurnia - Kabinet Kerja Jokowi
Kontroversinya, kalau itu terjadi, mungkin dari sosok menteri yang dipilihnya. Ada sejumlah menteri yang dianggap sangat cocok mengisi posnya tetapi yang lainnya masih dipertanyakan atau dianggap dipaksakan karena faktor politik. Ignasius Jonan, misalnya, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia ini sudah lama disebutkan pantas diangkat menjadi Menteri Perhubungan. Prestasinya menata perkeretaapian Indonesia begitu mencolok. Karena itu banyak yang memberi apresiasi ketika ia ditunjuk menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Kerja Jokowi. Demikian juga dengan Anies Baswedan yang di Kabinet Jokowi menjadi Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah. Tak ada yang meragukannya.

Tetapi beberapa menteri lain ada yang diragukan kapasitasnya. Mungkin karena track-recorddi bidang kementerian di mana ia ditunjuk menjadi menteri, tidak banyak diketahui orang. Tetapi, meskipun ada pro-kontra tentang kapabilitas menteri muncul, proses perekrutannya memberi nuansa baru. Presiden Jokowi melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) untuk meminta masukan atas rekam jejak para calon menteri tersebut. Proses ini membuat calon menteri yang diberi tanda merah, kuning, atau kuning tua oleh KPK tak dipilih Jokowi dan Presiden mengajukan nama-nama baru. Inilah yang membuat pengumuman Kabinet Kerja diundur waktunya.

Hal lainnya adalah nomenklatur menteri yang berubah. Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perumahan Rakyat digabung menjadi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kementerian Pendidikan dipecah menjadi Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.  Pemecahan ini membuat Kementerian Riset dan Teknologi tak ada. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif diubah menjadi Kementerian Pariwisata. Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup digabung menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dipecah menjadi Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Selain itu, cara Presiden Jokowi mengumumkannya pun berbeda dengan Presiden-Presiden sebelumnya. Jika dulu masyarakat hanya mendapat daftar menteri di hari pengumuman, kali ini Presiden Jokowi mengumumkan satu per satu nama kementerian dan menteri yang menjabatnya sekaligus memperkenalkan menteri bersangkutan.

Hal-hal baru ini semoga memberi pertanda bahwa pemerintahan baru di bawah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla membawa Indonesia ke tahapan yang jauh lebih baik. Selamat bekerja, Kabinet Kerja!

Berikut susunan Kabinet Kerja Jokowi-JK:

  1. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
    2. Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago
    3. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman: Indroyono Soesilo
    4. Menteri Perhubungan: Ignasius Jonan
    5. Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti
    6. Menteri Pariwisata: Arief Yahya
    7. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Sudirman Said
    8. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan: Tedjo Edy Purdjianto
    9. Menteri Dalam Negeri: Tjahjo Kumolo
    10. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Priansari Marsudi
    11. Menteri Pertahanan: Ryamizard Ryacudu
    12. Menteri Hukum dan HAM: Yasonna H Laoly
    13. Menteri Komunikasi dan Informatika: Rudiantara
    14. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yuddy Chrisnandi
    15. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Sofyan Djalil
    16. Menteri Keuangan: Bambang Brodjonegoro
    17. Menteri Badan Usaha Milik Negara: Rini M Soemarno
    18. Menteri Koperasi dan UKM: Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga
    19. Menteri Perindustrian: Saleh Husin
    20. Menteri Perdagangan: Rahmat Gobel
    21. Menteri Pertanian: Amran Sulaiman
    22. Menteri Ketenagakerjaan: Hanif Dhakiri
    23. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono
    24. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
    25. Menteri Agraria dan Tata Ruang: Ferry Mursyidan Baldan
    26. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani
    27. Menteri Agama: Lukman Hakim Saifuddin
    28. Menteri Kesehatan: Nila F Moeloek
    29. Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa
    30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Yohana Yambise
    31. Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah: Anies Baswedan
    32. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi: M Nasir
    33. Menteri Pemuda dan Olahraga: Imam Nahrawi
    34. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Marwan Jafar

Source: http://www.andriewongso.com