Bukan Warnanya, Tapi Isinya

Beberapa waktu lalu saya melihat tayangan TV Mario Teguh Golden Ways (sekarang sudah jadi Mario Teguh Super Show). Ada seorang yang bertanya kepada pak Mario “Pak, seringkali saya tidak yakin apakah saya bisa sukses. Setiap kali saya melakukan sesuatu, seolah-olah ada yang mengekang saya dan mengatakan bahwa saya tidak akan berhasil. Apakah ini karena orang tua saya yang sejak kecil mengatakan bahwa saya anak yang bodoh?”

Sahabat, banyak orang ingin berhasil dalam hidupnya. Tetapi dalam perjalanan meraih sukses, seringkali mereka dihadapkan pada berbagai peristiwa, situasi, tantangan, yang akhirnya mengendurkan keyakinan diri akan kesuksesan.

Latar belakang ekonomi yang tidak mendukung, latar belakang pendidikan yang buruk, kegagalan saat sedang berusaha, pengalaman masa lalu yang mengganggu, membuat banyak orang lupa bahwa mereka punya hak untuk sukses.

Sering sekali saya dengar orang bilang “saya masih terlalu muda, saya terlalu tua, saya hanya lulusan SMA, saya orang kampung, saya punya sakit tertentu…”

Padahal, bukan latar belakang seseorang yang menentukan dia berhasil atau tidak. Tetapi lebih karena hasrat berhasil, karakter dan sikap mental juara yang terbentuk dalam dirinya. Bukan warnanya, tapi isinya.

Pusta Hery Kurnia - Balon Gas

Di salah satu taman di Amerika, tampaklah seorang penjual balon gas. Ia menjual balon gas berwarna warni, hijau, merah, biru, kuning, putih, dan hitam. Penjual balon ini cerdik. Ketika tidak ada pembeli, ia menerbangkan beberapa balonnya: merah dan biru. Beberapa anak di taman mulai melihat dan berlarian mendatangi penjual balon. Ketika mulai sepi pembeli, penjual balon mulai melepaskan balon yang lain lagi. Kali ini balon warna kuning dan putih. Anak-anak yang sedang bermain di taman pun melihat dan menarik orang tuanya untuk membeli balon tersebut. Begitu seterusnya.

Penjual balon tidak sadar, dari awal dia menerbangkan balon ada seorang anak kecil yang memperhatikan. Anak kulit hitam. Anak ini mendekati penjual dan bertanya “Bu, dari tadi saya perhatikan. Ibu hanya menerbangkan balon yang berwarna merah, biru, kuning atau putih. Tetapi tidak sekalipun menerbangkan balon warna hitam. Kenapa bu?” Pada saat itu, orang kulit hitam masih dipandang sebagai orang terbelakang. Si penjual balon menatap anak itu dan tersenyum. Ia membungkukkan badannya, memegang bahu anak tersebut dan berkata “Nak, balon ini terbang bukan karena warnanya. Tetapi karena isinya”.

Sahabat, Anda bisa terbang, Anda bisa sukses bukan karena warna Anda. Bukan karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan atau yang lain. Anda bisa sukses. Anda bisa terbang meraih impian Anda karena isi Anda. Hasrat berhasil, karakter dan sikap mental juara yang ada dalam diri Anda. Itu yang akan mendorong Anda meraih keberhasilan. Dan Anda pasti punya itu. Yakinlah dengan diri Anda.

Bukan warnanya, tapi isinya. Apapun latar belakang Anda, Anda pasti bisa berhasil.

Perlu bukti?

Pusta Hery Kurnia - Lionel Messi

Lionel Messi, dari kecil memiliki kelainan sel yang membatasi tinggi tubuhnya. Sekarang, peraih empat kali gelar pemain terbaik dunia. Oprah Winfrey, berasal dari keluarga miskin dan broken home, mendapat perlakuan tidak pantas dan pemerkosaan sewaktu kecil, sekarang salah satu pembawa acara paling mahal di dunia. Warren Buffett, masa mudanya dipenuhi ketakutan berbicara di depan orang, dia bilang “melamar istri saya saja saya tidak berani”, sekarang salah satu orang terkaya di dunia, pembicara ahli dalam bidang investasi. Contoh dari Indonesia: Mahmudi Fukumoto, lulusan SMA, mantan kuli dan kerja serabutan, sekarang CEO Keihin Group, sebuah perusahaan kontraktor dan bisnis lainnya di jepang. Inul Daratista, penyanyi dangdut dari kampung ke kampung, sekarang salah satu artis dangdut paling terkenal di Indonesia, pemilik jaringan bisnis karaoke yang sangat besar.

Sahabat, apakah orang-orang ini berasal dari latar belakang yang luar biasa? Sempurna? Tentu tidak! Mereka punya masa lalu yang sangat sulit. Tetapi itu tidak menghentikan mereka. Ini yang beda. Orang-orang juara paham betul, bahwa bukan masa lalu yang menentukan keberhasilan mereka. Tetapi keyakinan, keinginan untuk berhasil dan merubah keadaan lah yang jadi penentunya.

Bukan warnanya, tapi isinya.

Apapun latar belakang Anda, kalau Anda punya keyakinan, karakter dan sikap mental juara dalam diri. Anda pasti bisa!

Two Pillars of Trust

Romy RafaelKetika mendengar kata Hipnotis, apa yang ada di pikiran Anda?

Tipu-tipu, sihir, magic, bantuan jin? Banyak orang menganggap hipnotis sesuatu yang bersifat magic, klenik, atau bantuan jin. Tetapi sisi yang berbeda saya temukan ketika mengikuti pelatihan hipnotis & hipnoterapi. Bahkan salah satu sahabat saya, Hari Dewanto, seorang pakar hipnotis, mengatakan bahwa “orang bilang ini magic karena mereka tidak tau caranya. Ini ilmiah sekali. Siapapun bisa belajar dengan cepat. Ini akan jadi seperti magic, kalau mereka tidak tahu caranya”. Menarik sekali rekan-rekan, akan terlihat seperti magic kalau kita tidak tau caranya.

Persis sekali dengan kepemimpinan. Meskipun ini hal yang umum, tetapi banyak orang masih belum tau bagaimana memimpin secara efektif. Kalau ada pemimpin yang bagus, orang sering bilang, itu memang bakat dia, cuma dia yang bisa begitu. Saya baca berita di kompas online tentang Recep Tayyip Erdogan (Presiden Turki). Waktu itu ia berhasil mempersuasi salah satu warga negaranya untuk tidak jadi bunuh diri. Uniknya, ada yang berkomentar “bapak ini menguasai ilmu sugesti pikiran yang sangat kuat”.

Memang menjadi pemimpin yang efektif tidaklah mudah. Hasil survey yang dilakukan MSN.com menunjukkan bahwa 42% manager (orang yang diangkat untuk memimpin tim tertentu) gagal dalam 18 bulan. Gagal disini dalam artian dia tidak capai target, atau tidak ada kemajuan berarti sesuai yang diharapkan, atau tidak bisa memenuhi job descriptionnya. Dari 42% ini, 82% nya gagal salah satunya karena tidak mampu membangun kepercayaan dari tim.

Di sini bisa kita lihat bahwa pemimpin yang efektif harus mampu membangun trust, keyakinan bahwa dia dapat diandalkan, dari anggota tim atau partner kerjanya. Jadi, kalau Anda ingin lebih efektif sebagai pemimpin, Anda harus mampu membangun trust sebagai dasar kepemimpin Anda.

Pusta Hery Kurnia - Trust

Ada dua pilar utama dalam membangun trust.

Yang pertama adalah kompetensi. Orang akan percaya dengan Anda, jika Anda mampu menunjukkan bahwa Anda kompeten di bidang Anda. Anda mampu menjadi pemberi solusi dan menyelesaikan masalah. Salah satu pemimpin yang dipercaya karena kompetensinya adalah Ignasius Jonan. Tahun 2008, ia dipercaya menjabat sebagai direktur utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Waktu itu, KAI merugi 80M, pelayanan konsumen sangat buruk, jadwal kereta api sering telat, punya tiket tapi tidak dapat tempat duduk dalam gerbong, stasiun banyak copet, dll. Dengan perjuangan Jonan mengalihkan fokus pelayanan pada konsumen, menciptakan system jadwal kereta on time, penjualan tiket sesuai jumlah kursi, membentuk polsuska untuk keamanan stasiun dan kereta, dll. Hasilnya? Di tahun 2013, KAI meraup untung 460M! Peningkatan lebih dari 5 kali lipat! Sekarang, KAI menjadi salah satu perusahaan terdepan di Indonesia. Karena kemampuannya mengangkat KAI, Jonan pun dipercaya menjadi Menteri Perhubungan Presiden Jokowi. Jadi, pilar dipercaya yang pertama adalah Anda harus punya kompetensi di bidang Anda.

Yang kedua adalah relasi. Kalau ada orang asing, tiba-tiba datang ke Anda dan pinjam HP, apakah Anda akan memberikannya? Kemungkinan besar tidak. Tetapi kalau yang pinjam HP adalah orang tua Anda, anda akan berikan? Pasti. Bedanya dimana? Relasi. Tingkat kedekatan Anda dengan seseorang menentukan level trust Anda dengan dia. Jika Anda ahli membangun relasi, Anda juga akan cenderung lebih mudah memperoleh trust. Salah satu sahabat saya, Sufriyadi, seorang asisten manajer di perusahaan kelapa sawit. Suatu ketika Ia terlibat perdebatan dengan seorang petani. Petani tersebut memaksa untuk memasukkan buah dibawah standar. Sufri dengan tegas menolak. Petani naik pitam dan mengalungkan parang ke leher Sufri, mengancam akan membunuh. Sufri memandang petani itu dan mengatakan “Bapak bunuh saya, urusan kita belum tentu selesai. Akan ada keluarga dan perusahaan yang cari bapak. Saya hanya menjalankan amanah perusahaan. Kalau saya ijinkan, saya salah, bapak juga salah. Tenang dulu pak. Turunkan dulu parangnya.” Singkat cerita, Sufri berhasil meyakinkan petani. Nah ini yang menarik. Malamnya, Sufri datang ke rumah petani tersebut sambil membawa gula dan kopi. Sambil minum kopi, Sufri berkata “Pak, saya mohon maaf untuk kejadian tadi siang. Saya hanya menjalankan tugas. Bapak pasti paham posisi saya. Justru karena saya peduli dengan bapak saya harus tegas. Sekali lagi saya mohon maaf pak.”. Jadi, pilar ke dua dari trust adalah Anda harus ahli membangun relasi.

Sahabat, kedua pilar ini kompetensi dan relasi, harus Anda kembangkan dengan baik. Trust yang Anda dapat tidak akan maksimal hanya dengan kompetensi atau relasi saja. Harus kedua-duanya. Jika Anda benar-benar menguasai bidang Anda dan mampu menjalin relasi yang baik, Anda akan mudah sekali memperoleh trust. Dan dengan trust ini Anda akan jauh lebih efektif sebagai pemimpin.

A Habit for Positive Mindset

Gates reading book

Menurut Anda, mana yang lebih berkualitas, sepatu buatan Indonesia atau amerika? Baju buatan Indonesia atau Eropa? Printer buatan Indonesia atau Jepang?

Sangat sedikit orang yang menjawab sepatu, baju, atau printer buatan Indonesia punya kualitas yang lebih baik. Padahal, semua barang-barang tersebut diproduksi di Indonesia. Sepatu ada di Bandung, Karawang, atau Subang. Baju di Bandung. Produksi printer di Cikarang. Dengan kata lain, orang Indonesia mampu menghasilkan barang dengan standar kualitas tinggi sehingga bisa dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan asing amerika, Eropa atau jepang. Kualitas Indonesia tidak kalah dari kualitas negara lain, bahkan lebih baik.

Pertanyaanya, mengapa umumnya kita akan menilai kualitas barang Indonesia lebih jelek dibanding negara lain? Mengapa?

Salah satunya karena alam bawah sadar kita mengatakan bahwa kita, Indonesia inferior, bukan siapa-siapa. Kalau disuruh memilih antara pemenang dan pecundang, kita akan jauh lebih mudah untuk mengatakan bahwa Indonesia bukan pemenang. Dengan kata lain kita lebih setuju bahwa Indonesia adalah pecundang. Padahal belum tentu demikian. Pikiran kita, sikap mental kitalah yang membuat kita berpikir demikian. Sikap mental dan pikiran positif sangat menentukan.

Salah satu cara yang sangat powerful adalah dengan punya kebiasaan membaca buku pengembangan diri.

Ada tiga alasan mengapa Anda perlu membaca buku pengembangan diri:

1. Menanamkan pola pikir positif

Ayah saya berusia sekitar 65 tahun. Ia menderita sakit tremor lengan kanan. Sakit ini membuat seolah-olah ada yang salah dengan hidupnya. Ia susah sekali tersenyum. Terlihat stress. Jadi saya belikan buku berjudul Happiness Café. Buku ini menceritakan banyak sekali kisah orang-orang yang cacat, tetapi bisa menikmati hidup dan menginspirasi orang lain. Jessica Cox, menerbangkan pesawat hanya dengan kaki, Nick Vujicic, menaklukan dunia tanpa lengan dan kaki. Ayah saya terlihat asik sekali membacanya, kemudian saya tanya “apa yang menarik dari buku ini?”. Ayah saya bilang “Ternyata banyak yang lebih kurang beruntung dibanding saya. Saya harus lebih berpikir positif”. Lihat, membaca buku yang tepat akan dengan cepat membuat Anda jauh lebih positif.

2. Mengembangkan sikap mental pemenang

Siapa di antara Anda suka pergi ke gym? Body building bertujuan mengembangkan otot tubuh. Semakin sering Anda berlatih, semakin besar otot tubuh Anda. Membaca itu seperti body building. Kalau body building mengembangkan otot tubuh, membaca mengembangkan otot mental Anda. Semakin banyak membaca, semakin kuat otot mental Anda. Membaca buku seperti Berpikir dan Berjiwa Besar, It’s not how good you are, it’s how good you want to be, akan memberikan pemahaman baru bahwa Anda adalah seorang pemenang, Anda diciptakan untuk menang. Jadi ketika Anda menghadapi tantangan Anda punya keyakinan yang tinggi bahwa Anda akan menang menghadapi tantangan.

3. Mempercepat Anda meraih sukses

Thomas Corley meneliti kebiasaan 233 multi milyarder dan 128 poor people. Ternyata 88% orang yang sangat kaya biasa membaca buku minimal 30 menit sehari. Hanya 2% orang miskin yang biasa baca buku. Jelas sekali perbedaanya. Orang kaya tau bahwa Success leaves track. Kalau kita mau berhasil, ikuti saja jejak orang yang sudah berhasil. Dengan mengikuti jejak yang sudah dibuat, siapapun akan lebih cepat sampai. Nah, orang yang sangat sukses banyak meninggalkan jejak-jejak mereka lewat buku dan tulisan. Anda tidak perlu lagi terlalu lama coba dan gagal, tinggal ikuti tips praktis yang sudah disarankan. Ini membuat Anda jauh lebih cepat mencapai keberhasilan.

Charlie Jones, a motivational speaker said “You’ll be the same in five years as you are today, except for the people you meet and the books you read”.

Sahabat, kapan terakhir kali Anda baca buku pengembangan diri? buku apa yang Anda baca sekarang? Seberapa sering Anda memilih untuk membaca buku pengembangan diri ketimbang artikel bola atau berita terbaru detik.com?

Bayangkan jika Anda mulai kebiasaan membaca buku pengembangan diri 15 – 30 menit saja sehari. Betapa positifnya, betapa kuatnya otot mental Anda. Betapa Anda akan jauh lebih berani, lebih yakin saat menghadapi tantangan, lebih cepat menapaki jalur kesuksesan Anda. Dan yang lebih penting lagi, kalau Anda bisa menularkan kebiasaan ini ke saudara-saudara kita orang Indonesia. Suatu nanti kita akan bisa melihat, mendengar, merasakan orang Indonesia dengan tegas berkata “Indonesia is not inferior. Indonesia is a great country”.

Habit of Highly Rich People

Pusta Hery Kurnia - Brian Tracy

Kebiasaan adalah sesuatu yang Anda lakukan berulang-ulang, terus menerus, sehingga tidak perlu mikir keras pun Anda sudah bisa lakukan dengan benar. Ketika saya kuliah di UPI Bandung, saya setiap hari selalu lewat Jalan Abdul Rivai terus belok ke cipaganti. Suatu ketika saya harus mampir ke rumah teman di Jln Dr Cipto. Saya jalan lewat Abdul Rivai, tanpa sadar saya langsung belok ke arah Cipaganti. “Lho saya kan mau mampir dulu, kenapa jadi belok lewat sini? Kan harusnya lurus tadi ya. Haduh..” Ini namanya kebiasaan, habit. Sudah otomatis. Saking biasanya, Anda tidak perlu mikir untuk melakukan.

Tahukan Anda bahwa setiap orang mengembangkan habit tertentu? Teman saya sering bilang “kalau habis makan itu rasanya kurang nikmat kalau belum ngerokok”, ini habit, habit ngerokok. “Ah, ntar dulu deh ngerjainnya. Main dulu sebentar. Ini habit, habit menunda. Atau “nanti dulu berangkatnya, nunggu pas waktunya. Ini juga habit, habit datang telat. Menariknya di Indonesia habit ini sangat terkenal, sampai-sampai dia jadi pencipta lagu dan penyanyi, Ebiet G Ade, kupu-kupu kertas.

Brian Tracy, salah satu motivator dan pakar pengembangan diri dunia, mengatakan bahwa “Successful People are simply those with successful habits”. Jadi, orang-orang yang sangat sukses, sangat kaya pun punya habit / kebiasaan sendiri.

Habit ini didokumentasikan dengan sangat baik oleh Tom Corley, penulis buku Rich Habits – The Daily Success Habits of Wealthy Individuals. Ia melakukan penelitian selama lima tahun. Selama lima tahun tersebut, Tom mengamati dan mencatat aktivitas keseharian dari 233 orang yang sangat kaya, termasuk Carlos Slim, Bill Gates, Amancio Ortega, dan Warren Buffett, serta 128 orang yang tinggal dalam kemiskinan. Tom menemukan bahwa ada lebih dari 300 perbedaan aktivitas kebiasaan orang yang kaya dan yang kurang mampu.

Kebiasaan Setting Target

Salah satu habit yang sangat penting adalah orang kaya menentukan target.

67% orang kaya menuliskan sasaran mereka, bandingkan dengan orang yang kurang kaya yang hanya 17%. Menuliskan sasaran membuat Anda jauh lebih fokus dalam mencapai sesuatu. Ibarat sinar matahari, jika difokuskan mampu membakar kertas. Sama halnya dengan kita. Jika kita fokus pada target yang jelas, berbagai potensi diri akan muncul demi tercapainya sasaran.

Salah satu contoh bisa kita lihat dari Jim Carrey. Jim terkenal dari film-filmnya seperti The Grinch, The Truman Show and Ace Ventura, Pet Detective, dan the Mask. Sebelum Jim ikut casting Living Color, sebuah pertunjukkan komedi, Jim baru saja ditolak oleh acara yang lain, Saturday Night Live. Acara ini adalah peluang yang diimpi-impikan Jim. Dalam masa sulitnya, saat tidak ada panggilan casting dan audisi Jim sampai harus tidur di mobil dan tidak punya uang untuk membeli makanan. Menariknya, suatu hari Jim menuliskan sebuah cek untuk dirinya sendiri dan membawanya ke manapun. Setiap kali ia mengalami masa sulit dan penolakan, Jima mengeluarkan cek tersebut dan melihatnya. Jim memvisualisasikan, membayangkan betapa hebatnya apabila ia suatu saat nanti mencairkannya.

Jim mengatakan “Saya menuliskan cek sepuluh juta dolar untuk saya sendiri sebagai bayaran jasa acting dan menuliskan tanggal Thanksgiving 1995. Saya masukkan dompet, makin lama jadi lusuh. Tepat sebelum Thanksgiving 1995, saya baru sadar bahwa saya akan mendapatkan 10 juta dolar untuk Dumb & Dumber.”

Jim Carrey membuktikan the power of setting goal dalam mencapai kesuksesan financial.

Menariknya, ada rekan saya yang bilang “hidup itu mengalir saja. Tidak usah terlalu di atur. Kita ikuti saja”. No no no.. Bagaimana kalau mengalirnya ke comberan, apa kita mau ikut aja? Tentu tidak bukan?

Kita punya pilihan. Success leaves track. Ikutilah track orang-orang kaya. Lakukan kebiasaan orang kaya. Tentukan sasaran Anda dalam kehidupan. Apa yang ingin Anda capai dalam 2-3 bulan, 2-3 tahun, 5 – 10 tahun ke depan. Anda mau dipromosi jadi apa, ingin menjadi apa, ingin punya penghasilan berapa, ingin punya apa? Tuliskan sasaran Anda dan fokus buat action plan untuk mencapai sasaran tersebut.

Seperti yang dikatakan Tony Robins “Setting goals is the first step in turning the invisible into the visible.”

Jika Anda melakukannya secara konsisten, lagi dan lagi dan lagi dan lagi, Anda akan memiliki habits yang sama dengan orang-orang kaya, orang yang sangat sangat sukses, dan akan mengantarkan Anda juga pada kondisi yang sama, sukses dan kaya.

Say YES to Your Potential

Pusta Hery Kurnia - Say Yes to Your Potential

Dahulu kala, hiduplah seorang kakek bijak dengan cucunya. Sambil memegang sebuah biji aple, kakek bertanya “Cu, apa yang kamu lihat di biji ini?” Cucu menjawab “aku melihat satu biji apel berwarna coklat gelap kek”. “Aku tau Cu. Kakek melihat ada hal yang lain. Kamu tau apa itu?” tanya kakek. “Hmm.. apa ya.. aku cuma lihat satu biji apel kek. Memang ada yang lain?” Jawab cucu. “Ya cu, dengarkan kakek”. Kakek menjawab “Kakek melihat, di dalam biji apel ini ada satu pohon apel. Di dalam satu pohon apel, ada ratusan buah apel. Di dalam ratusan buah apel, ada ribuan biji. Di dalam ribuan benih, ada ribuan pohon. Ribuan pohon bisa menghasilkan puluhan ribu buah, ratusan ribu biji, dan seterusnya. Jadi, di dalam satu biji apel kecil ini, terkandung potensi puluhan ribu buah apel, bahkan lebih.

Sahabat, sama halnya dengan biji apel. Di dalam diri Anda, terkandung potensi yang luar biasa besar. Anda tidak pernah tau suatu ketika nanti akan jadi apa, atau hal besar apa yang terjadi nanti gara-gara Anda. Mungkin anda akan jadi guru atau dosen yang hebat yang menciptakan siswa-siswa handal, penulis terkenal yang menginspirasi orang untuk maju, pengusaha sukses yang menciptakan banyak lapangan kerja. Kita tidak tau. Tetapi yang pasti semua potensi itu ada di dalam diri Anda.

Hari ini saya akan share tiga cara bagaimana Anda bisa membangkitkan potensi tersebut dan mewujudkannya.

Pertama, Anda harus berkata “Ya” pada potensi Anda

Sepuluh tahun yang lalu, saya punya hubungan yang sangat dekat dengan seorang gadis. Belum berpacaran. Suatu hari, saya bilang sama dia “maukah kamu jadi pacarku?”. Dia ucapkan satu kata sederhana. “Ya”. Saya rasakan perasaan senang dan bahagia. Begitu dia bilang ya, perasaan cinta dalam hati semakin besar dan besar, semakin bertumbuh. Setiap hari, kami terus memupuk perasaan itu bersama. Hingga tak terasa, sekarang kami sudah membina rumah tangga dan dikaruniai seorang anak. Cinta kami semakin bertumbuh diawali oleh satu kata “ya.

The power of Yes. Begitu juga dengan potensi Anda. Dengan berkata ya pada potensi Anda, Anda memberi ijin potensi itu untuk terus bertumbuh semakin besar. Mengatakan ya pada potensi Anda berarti Anda berani punya impian, Anda begitu yakin bahwa Anda bisa capai impian tersebut, sehingga Anda mengijinkan diri untuk berjuang melakukan sesuatu hingga impian tersebut tercapai.

Berapa banyak orang yang selalu mengatakan tidak pada potensinya. Mereka biasa bilang “saya memang tidak berbakat”, “saya paling tidak bisa yang beginian”, “saya hanya lulusan kampus tidak terkenal, mana bisa sukses”, “saya masih terlalu muda, mana bisa pimpin project ini”, dan seterusnya. Banyak orang terus menerus menolak potensi dalam diri mereka. Padahal, langkah awal agar potensi itu bisa punya peluang untuk terus berkembang adalah, Anda mengatakan Ya pada potensi Anda.

Kedua, Anda harus mengeluarkan potensi tersebut melalui action.

Bagaimana caranya biji apel ini bisa bertumbuh? Ya. Meskipun anda tahu biji ini bisa tumbuh menjadi pohon. Anda mengatakan ya pada potensinya, biji apel ini tidak akan bertumbuh begitu saja. Satu-satunya cara untuk membuatnya benar-benar tumbuh menjadi sebuah pohon adalah dengan menanamnya.

Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar, mengatakan vision without execution is hallucination. Meskipun Anda tau bahwa Anda punya potensi yang besar. Orang bilang “wah, kamu bakat ini ya.. kamu bakat itu ya..” Anda tau dengan jelas impian Anda apa, tetapi kalau Anda tidak mengambil tindakan untuk mewujudkannya, semua itu hanya sia-sia.

Keluarkan potensi dalam diri Anda dengan mengambil tindakan. Tindakan apa? Tindakan yang fokus, spesifik mendukung potensi atau impian Anda. Jika Anda ingin jadi seorang dosen yang hebat, jangan habiskan waktu Anda untuk bermain game, atau membaca berita gossip yang tidak mendukung. Gunakanlah waktu untuk bersosialisasi, buat network dengan dosen-dosen senior, belajar dari pengalaman mereka, coba dan kembangkan berbagai metode pengajaran yang efektif, serta tingkatkan keterampilan akademis.

Ketiga, Anda harus persisten. Lakukan terus sampai berhasil.

Tahun 1986, Lomba marathon berjarak 42km di New York. Bob Wieland, seorang veteran perang Vietnam mengikuti lomba tersebut. Ia kehilangan kedua kakinya terkena ranjau di medan perang. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya ke depan. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Kekuatannya mulai habis. Bob perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak di sana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.

Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah2 gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit ! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun ! Jangan menyerah! Cepat bangkit !!!”

Perlahan Bob mulai membuka matanya kembali. Garis finish sudah dekat. Semangat membara lagi di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat- lompat ke depan. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.

Persistensi, terus berjuang, menolak untuk berhenti akan membawa Anda pada potensi Anda, mengantarkan Anda pada impian dan cita-cita Anda.

Sahabat, katakan ya pada potensi Anda, katakan ya pada potensi Anda, katakan ya pada potensi Anda. Hanya dengan inilah Anda bisa action dan terus berjuang, hingga potensi dan impian Anda bisa benar-benar terwujud.

Oleh: Pusta Hery Kurnia

Seorang ART Berpredikat Cum Laude dan Mendapat Beasiswa S-2

Pusta Hery Kurnia - Darwati

Lulus kuliah tepat waktu dengan predikat cum laude bukanlah hal yang mudah, untuk mencapainya dibutuhkan perjuangan dan semangat belajar yang tinggi. Pretasi tersebut berhasil diraih oleh Darwati (23), asisten rumah tangga (ART) asal Desa Gunungan RT 002/RW 001, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. 

Terlahir sebagai anak petani boro (petani tanpa lahan) di Kabupaten Blora, kehidupan keluarga Darwati (23) terbilang jauh dari mapan. Namun anak perempuan dari pasangan Sumijan dan Jasmi ini memiliki impian dan tekad kuat untuk menjadi seorang sarjana meski kondisi perekonomian keluarganya terbatas.  Impiannya sangat sederhana, yaitu ingin menaikkan derajat dan memperbaiki hidup kedua orang tuanya.

Setelah lulus dari SMA Muhammadiyah 5 Todanan, Darwati memutuskan merantau ke Jakarta untuk bekerja, namun belum genap seminggu dia kembali pulang ke kampung halaman karena tindak kekerasan. Setelah itu Darwati sempat ikut bekerja berjualan es campur di kampung, namun tidak lama karena dia memutuskan untuk menerima tawaran kerja sebagai ART.

Masih jelas dalam ingatan Darwati tanggal 16 Agustus 2010 adalah awal dia bekerja sebagai ART di rumah Drg. Lely Atasti Bachrudin, di Grobogan. Ketika itu masih belum terbayang bahwa kelak dia bisa mewujudkan impiannya untuk meneruskan pendidikan hingga sarjana. Hingga satu waktu Darwati bergumam mengenai keinginannya untuk kuliah. “Mungkin didengar sama Bapak (majikan), beberapa hari setelah itu, Bapak tiba-tiba bilang saya boleh nyambi kuliah,” ungkapnya. Diceritakan, majikannya kala itu mengatakan jika ayahnya dari desa baru saja menemui sang majikan dan menyampaikan keinginan Darwati berkuliah, dan majikannya ternyata mengizinkan.

“Saya langsung semangat mencari informasi perguruan tinggi sampai akhirnya memilih di Semarang. Saya sisihkan sebagian gaji. Ternyata bapak saya tidak pernah menemui beliau (majikan),” kenangnya.

Setelah berhasil tercatat sebagai mahasiswi jurusan Administrasi Negara di Universitas 17 Agustus Semarang (Untag), Darwati tetap bekerja sebagai ART. Untuk berangkat kuliah, ia harus menempuh jarak kurang lebih 50 kilometer dengan menumpang bus, terkadang menumpang kawannya yang kebetulan berasal dari Grobogan.

“Yang mengejek, ya pasti ada, namun saya anggap angin lalu. Untuk dana, saya sisihkan uang gaji, kadang saya pinjam teman, kadang juga diberi uang saku sama Bapak (majikan),”katanya.

Ejekan dari beberapa temannya justru dijadikan motivasi untuk mendapatkan prestasi yang baik. Setiap malam, Darwati menyempatkan diri untuk belajar, meski sebagian besar waktunya habis untuk bekerja. “Belajarnya kalau pas waktu senggang saja, kadang habis maghrib sambil menunggu bos, jika ada pekerjaan. Kadang (belajar) di atas jam 9 malam agar bisa konsentrasi,” jelasnya.  Tidak jarang juga ketika sang majikan memanggil, dia sedang asyik belajar. Kendati demikian, sang majikan bisa memahami juga apabila Darwati terlambat datang memenuhi panggilan.

Semua usaha dan kerja keras Darwati tidak sia-sia, ia berhasil lulus sebagai salah satu mahasiswi terbaik dengan indeks prestasi 3.68. Keberhasilannya ini tentu membanggakan kedua orang tua dan juga keluarga majikannya. Tidak hanya itu, prestasi Darwati di bidang pendidikan mendapatkan perhatian dari Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir yang menawarkan beasiswa S-2 di Universitas Diponegoro Semarang.

Perjuangan Darwati bisa menjadi contoh, dia berhasil membuktikan bahwa kesuksesan tidak melihat dari mana seseorang berasal. Sukses bisa terwujud selama ada keberanian untuk bermimpi, keinginan yang kuat dan kerja keras pantang menyerah untuk mencapainya.

Luar Biasa!

Sumber: http://www.andriewongso.com