Two Pillars of Trust

Romy RafaelKetika mendengar kata Hipnotis, apa yang ada di pikiran Anda?

Tipu-tipu, sihir, magic, bantuan jin? Banyak orang menganggap hipnotis sesuatu yang bersifat magic, klenik, atau bantuan jin. Tetapi sisi yang berbeda saya temukan ketika mengikuti pelatihan hipnotis & hipnoterapi. Bahkan salah satu sahabat saya, Hari Dewanto, seorang pakar hipnotis, mengatakan bahwa “orang bilang ini magic karena mereka tidak tau caranya. Ini ilmiah sekali. Siapapun bisa belajar dengan cepat. Ini akan jadi seperti magic, kalau mereka tidak tahu caranya”. Menarik sekali rekan-rekan, akan terlihat seperti magic kalau kita tidak tau caranya.

Persis sekali dengan kepemimpinan. Meskipun ini hal yang umum, tetapi banyak orang masih belum tau bagaimana memimpin secara efektif. Kalau ada pemimpin yang bagus, orang sering bilang, itu memang bakat dia, cuma dia yang bisa begitu. Saya baca berita di kompas online tentang Recep Tayyip Erdogan (Presiden Turki). Waktu itu ia berhasil mempersuasi salah satu warga negaranya untuk tidak jadi bunuh diri. Uniknya, ada yang berkomentar “bapak ini menguasai ilmu sugesti pikiran yang sangat kuat”.

Memang menjadi pemimpin yang efektif tidaklah mudah. Hasil survey yang dilakukan MSN.com menunjukkan bahwa 42% manager (orang yang diangkat untuk memimpin tim tertentu) gagal dalam 18 bulan. Gagal disini dalam artian dia tidak capai target, atau tidak ada kemajuan berarti sesuai yang diharapkan, atau tidak bisa memenuhi job descriptionnya. Dari 42% ini, 82% nya gagal salah satunya karena tidak mampu membangun kepercayaan dari tim.

Di sini bisa kita lihat bahwa pemimpin yang efektif harus mampu membangun trust, keyakinan bahwa dia dapat diandalkan, dari anggota tim atau partner kerjanya. Jadi, kalau Anda ingin lebih efektif sebagai pemimpin, Anda harus mampu membangun trust sebagai dasar kepemimpin Anda.

Pusta Hery Kurnia - Trust

Ada dua pilar utama dalam membangun trust.

Yang pertama adalah kompetensi. Orang akan percaya dengan Anda, jika Anda mampu menunjukkan bahwa Anda kompeten di bidang Anda. Anda mampu menjadi pemberi solusi dan menyelesaikan masalah. Salah satu pemimpin yang dipercaya karena kompetensinya adalah Ignasius Jonan. Tahun 2008, ia dipercaya menjabat sebagai direktur utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Waktu itu, KAI merugi 80M, pelayanan konsumen sangat buruk, jadwal kereta api sering telat, punya tiket tapi tidak dapat tempat duduk dalam gerbong, stasiun banyak copet, dll. Dengan perjuangan Jonan mengalihkan fokus pelayanan pada konsumen, menciptakan system jadwal kereta on time, penjualan tiket sesuai jumlah kursi, membentuk polsuska untuk keamanan stasiun dan kereta, dll. Hasilnya? Di tahun 2013, KAI meraup untung 460M! Peningkatan lebih dari 5 kali lipat! Sekarang, KAI menjadi salah satu perusahaan terdepan di Indonesia. Karena kemampuannya mengangkat KAI, Jonan pun dipercaya menjadi Menteri Perhubungan Presiden Jokowi. Jadi, pilar dipercaya yang pertama adalah Anda harus punya kompetensi di bidang Anda.

Yang kedua adalah relasi. Kalau ada orang asing, tiba-tiba datang ke Anda dan pinjam HP, apakah Anda akan memberikannya? Kemungkinan besar tidak. Tetapi kalau yang pinjam HP adalah orang tua Anda, anda akan berikan? Pasti. Bedanya dimana? Relasi. Tingkat kedekatan Anda dengan seseorang menentukan level trust Anda dengan dia. Jika Anda ahli membangun relasi, Anda juga akan cenderung lebih mudah memperoleh trust. Salah satu sahabat saya, Sufriyadi, seorang asisten manajer di perusahaan kelapa sawit. Suatu ketika Ia terlibat perdebatan dengan seorang petani. Petani tersebut memaksa untuk memasukkan buah dibawah standar. Sufri dengan tegas menolak. Petani naik pitam dan mengalungkan parang ke leher Sufri, mengancam akan membunuh. Sufri memandang petani itu dan mengatakan “Bapak bunuh saya, urusan kita belum tentu selesai. Akan ada keluarga dan perusahaan yang cari bapak. Saya hanya menjalankan amanah perusahaan. Kalau saya ijinkan, saya salah, bapak juga salah. Tenang dulu pak. Turunkan dulu parangnya.” Singkat cerita, Sufri berhasil meyakinkan petani. Nah ini yang menarik. Malamnya, Sufri datang ke rumah petani tersebut sambil membawa gula dan kopi. Sambil minum kopi, Sufri berkata “Pak, saya mohon maaf untuk kejadian tadi siang. Saya hanya menjalankan tugas. Bapak pasti paham posisi saya. Justru karena saya peduli dengan bapak saya harus tegas. Sekali lagi saya mohon maaf pak.”. Jadi, pilar ke dua dari trust adalah Anda harus ahli membangun relasi.

Sahabat, kedua pilar ini kompetensi dan relasi, harus Anda kembangkan dengan baik. Trust yang Anda dapat tidak akan maksimal hanya dengan kompetensi atau relasi saja. Harus kedua-duanya. Jika Anda benar-benar menguasai bidang Anda dan mampu menjalin relasi yang baik, Anda akan mudah sekali memperoleh trust. Dan dengan trust ini Anda akan jauh lebih efektif sebagai pemimpin.

Habit of Highly Rich People

Pusta Hery Kurnia - Brian Tracy

Kebiasaan adalah sesuatu yang Anda lakukan berulang-ulang, terus menerus, sehingga tidak perlu mikir keras pun Anda sudah bisa lakukan dengan benar. Ketika saya kuliah di UPI Bandung, saya setiap hari selalu lewat Jalan Abdul Rivai terus belok ke cipaganti. Suatu ketika saya harus mampir ke rumah teman di Jln Dr Cipto. Saya jalan lewat Abdul Rivai, tanpa sadar saya langsung belok ke arah Cipaganti. “Lho saya kan mau mampir dulu, kenapa jadi belok lewat sini? Kan harusnya lurus tadi ya. Haduh..” Ini namanya kebiasaan, habit. Sudah otomatis. Saking biasanya, Anda tidak perlu mikir untuk melakukan.

Tahukan Anda bahwa setiap orang mengembangkan habit tertentu? Teman saya sering bilang “kalau habis makan itu rasanya kurang nikmat kalau belum ngerokok”, ini habit, habit ngerokok. “Ah, ntar dulu deh ngerjainnya. Main dulu sebentar. Ini habit, habit menunda. Atau “nanti dulu berangkatnya, nunggu pas waktunya. Ini juga habit, habit datang telat. Menariknya di Indonesia habit ini sangat terkenal, sampai-sampai dia jadi pencipta lagu dan penyanyi, Ebiet G Ade, kupu-kupu kertas.

Brian Tracy, salah satu motivator dan pakar pengembangan diri dunia, mengatakan bahwa “Successful People are simply those with successful habits”. Jadi, orang-orang yang sangat sukses, sangat kaya pun punya habit / kebiasaan sendiri.

Habit ini didokumentasikan dengan sangat baik oleh Tom Corley, penulis buku Rich Habits – The Daily Success Habits of Wealthy Individuals. Ia melakukan penelitian selama lima tahun. Selama lima tahun tersebut, Tom mengamati dan mencatat aktivitas keseharian dari 233 orang yang sangat kaya, termasuk Carlos Slim, Bill Gates, Amancio Ortega, dan Warren Buffett, serta 128 orang yang tinggal dalam kemiskinan. Tom menemukan bahwa ada lebih dari 300 perbedaan aktivitas kebiasaan orang yang kaya dan yang kurang mampu.

Kebiasaan Setting Target

Salah satu habit yang sangat penting adalah orang kaya menentukan target.

67% orang kaya menuliskan sasaran mereka, bandingkan dengan orang yang kurang kaya yang hanya 17%. Menuliskan sasaran membuat Anda jauh lebih fokus dalam mencapai sesuatu. Ibarat sinar matahari, jika difokuskan mampu membakar kertas. Sama halnya dengan kita. Jika kita fokus pada target yang jelas, berbagai potensi diri akan muncul demi tercapainya sasaran.

Salah satu contoh bisa kita lihat dari Jim Carrey. Jim terkenal dari film-filmnya seperti The Grinch, The Truman Show and Ace Ventura, Pet Detective, dan the Mask. Sebelum Jim ikut casting Living Color, sebuah pertunjukkan komedi, Jim baru saja ditolak oleh acara yang lain, Saturday Night Live. Acara ini adalah peluang yang diimpi-impikan Jim. Dalam masa sulitnya, saat tidak ada panggilan casting dan audisi Jim sampai harus tidur di mobil dan tidak punya uang untuk membeli makanan. Menariknya, suatu hari Jim menuliskan sebuah cek untuk dirinya sendiri dan membawanya ke manapun. Setiap kali ia mengalami masa sulit dan penolakan, Jima mengeluarkan cek tersebut dan melihatnya. Jim memvisualisasikan, membayangkan betapa hebatnya apabila ia suatu saat nanti mencairkannya.

Jim mengatakan “Saya menuliskan cek sepuluh juta dolar untuk saya sendiri sebagai bayaran jasa acting dan menuliskan tanggal Thanksgiving 1995. Saya masukkan dompet, makin lama jadi lusuh. Tepat sebelum Thanksgiving 1995, saya baru sadar bahwa saya akan mendapatkan 10 juta dolar untuk Dumb & Dumber.”

Jim Carrey membuktikan the power of setting goal dalam mencapai kesuksesan financial.

Menariknya, ada rekan saya yang bilang “hidup itu mengalir saja. Tidak usah terlalu di atur. Kita ikuti saja”. No no no.. Bagaimana kalau mengalirnya ke comberan, apa kita mau ikut aja? Tentu tidak bukan?

Kita punya pilihan. Success leaves track. Ikutilah track orang-orang kaya. Lakukan kebiasaan orang kaya. Tentukan sasaran Anda dalam kehidupan. Apa yang ingin Anda capai dalam 2-3 bulan, 2-3 tahun, 5 – 10 tahun ke depan. Anda mau dipromosi jadi apa, ingin menjadi apa, ingin punya penghasilan berapa, ingin punya apa? Tuliskan sasaran Anda dan fokus buat action plan untuk mencapai sasaran tersebut.

Seperti yang dikatakan Tony Robins “Setting goals is the first step in turning the invisible into the visible.”

Jika Anda melakukannya secara konsisten, lagi dan lagi dan lagi dan lagi, Anda akan memiliki habits yang sama dengan orang-orang kaya, orang yang sangat sangat sukses, dan akan mengantarkan Anda juga pada kondisi yang sama, sukses dan kaya.

Sukses Ala Jack Welch

Pusta Hery Kurnia - Jack Welch

Legenda dari perusahaan General Electric (GE), Jack Welch adalah contoh nyata yang mampu menginspirasi siapa saja. Teladannya di GE yang mampu menggerakkan perusahaan tersebut mencapai puncaknya menjadi legenda hingga kini. Ia memang bukanlah pendiri perusahaan tersebut. Tapi, ia adalah pendobrak sistem kerja dan manajemen di GE, sehingga mampu mengubah perusahaan tersebut dari perusahaan yang “hanya” bernilai puluhan miliar dolar, menjadi ratusan miliar dolar di masa pensiunnya.

Di masa awal ia menjadi CEO (1981), Welch pernah dijuluki “bom neutron”, karena melakukan rasionalisasi pegawai yang sangat besar. Dalam bukunya Jack: Straight From The Gut, ia berkisah bagaimana dirinya mengubah ratusan ribu karyawan untuk mengefisiensikan perusahaan. Sebuah kebijakan yang kontroversial pada masa tersebut. Bahkan, setiap tahun, ia selalu memberhentikan 10% manajer yang memiliki prestasi paling bawah. Tapi, sebaliknya, ia juga memberikan imbalan dan bonus saham bagi 20% manajer teratasnya.

Apa saja kiat sukses yang diterapkannya hingga mampu mengubah GE menjadi demikian luar biasa? Berikut beberapa cuplikan kata-kata motivasi yang menggambarkan inspirasi dan kerja kerasnya…

• “Kendalikan nasibmu sendiri sebelum orang lain yang mengambil alih.”

Welch mengajarkan bagaimana seseorang harus menjadi dirinya sendiri dengan mengeluarkan segenap potensi. Dengan cara itu, orang akan memiliki kekuatan dan bisa mengubah lingkungan sekitarnya. Inilah salah satu bentuk motivasi Welch sehingga setiap orang didorong untuk memberikan yang terbaik.

• “Jangan mengatur, tapi pimpinlah orang untuk berubah sebelum perubahan terjadi.”

Menjadi pimpinan bukanlah sekadar bertugas untuk mengatur seseorang. Tapi, mengarahkan orang tersebut untuk mampu mengeluarkan potensinya sehingga bisa menghadapi berbagai tantangan dan halangan. Dengan metode kepemimpinan tanpa “menggurui”, Welch berhasil mengubah GE menjadi organisasi dengan orang-orang terbaik yang selalu siap bersaing di mana pun dan kapan pun.

• “Hadapi kenyataan sebagaimana adanya, jangan berpikir seharusnya begini atau seperti itu.”

Welch juga mengajarkan bagaimana seseorang untuk tidak mencari kambing hitam persoalan. Hadapilah apa pun risiko yang terjadi, dan bergeraklah dengan evaluasi yang menyeluruh. Dengan begitu, masalah yang dihadapi dari kenyataan yang terjadi, justru akan jadi pembelajaran ke depan.

• “Kemampuan organisasi untuk belajar dan mengambil langkah untuk mengubahnya jadi tindakan adalah bekal utama dalam menghadapi persaingan yang sangat sengit.”

Dalam era persaingan yang sangat sengit, kemampuan perusahaan untuk belajar dan beradaptasi terhadap perubahan menjadi faktor sukses GE di bawah kepemimpinan Welch. Karena itu, ia selalu menekankan pentingnya semangat belajar dan mengubah ilmu yang didapat sebagai tindakan untuk membawa organisasi bergerak lebih cepat dan lebih baik.

• “Saya belajar bahwa kesalahan dapat menjadi guru yang sangat baik, seperti juga kesuksesan.”

Ini adalah nasihat klise yang juga diungkap oleh banyak orang. Namun, di tangan Welch, nasihat ini ibarat “jimat” yang mampu mendorong setiap orang agar tak takut berbuat salah demi memberikan yang terbaik pada perusahaan. Dengan pengertian tentang hal ini, GE mampu berinovasi dan berkembang ke berbagai bidang.

• “Jika kamu tidak memiliki keunggulan kompetitif, maka jangan masuk ke arena kompetisi.”

Welch menekankan pentingnya melihat kemampuan diri sendiri dan bagaimana meningkatkan kepercayaan diri dengan mengevaluasi ke dalam. Dengan cara ini, ia bisa mendorong karyawannya untuk memiliki nilai lebih pada masing-masing divisi sehingga mampu bergerak lebih maksimal menghadapi berbagai tantangan yang ada.

• “Jika kamu mampu memilih orang tepat yang mampu mengembangkan sendiri ‘sayapnya’ dan memberikan kompensasi yang tepat, maka biasanya, kamu tak perlu mengaturnya.”

Dengan kebijakannya memecat 10% manajer terbawah dan memberikan bonus pada 20% manajer teratas, Welch membuka arena persaingan di dalam GE. Dan, justru itulah yang kemudian mampu mendorong orang untuk saling berlomba memberikan segenap potensinya untuk memajukan perusahaan. Dan, bisa dikatakan, Welch tak perlu lagi mengatur apa yang harus dilakukan para manajernya. Sebab, para manajer tersebut sudah tahu bagaimana menempatkan diri sesuai bidang masing-masing untuk menjadi yang terbaik di GE.

• “Saya adalah seorang pencari bakat. Layaknya tukang kebun, saya memberikan air dan merawat lebih dari 750 orang terbaik kita. Tapi, kadang-kadang, saya harus berupaya menumbuhkan bibit-bibit baru juga…
Meski dikenal tegas dan keras, Welch tak menutup kemungkinan bahwa ia juga harus tetap “mendampingi” benih-benih junior di GE. Sebab, ia tahu persis, semua orang pasti memiliki potensi dan kapabilitas masing-masing. Karena itu, ia selalu melihat dari berbagai segi untuk menjadikan orang-orang terbaik bisa berkembang di perusahaannya.

• “Tim yang memiliki pemain terbaiklah yang akan menang!”

Sudah pasti, apa yang dilakukan Welch bertujuan untuk membentuk budaya kerja yang dinaungi oleh orang-orang terbaik di bidangnya. Karena itu, ia selalu berusaha untuk membentuk tim-tim unggulan untuk menjadi pimpinan di berbagai divisi yang ada di GE. Dengan cara itulah, ia mampu membangun GE makin besar di masanya.

• “Meningkatkan kepercayaan diri orang lain adalah tugas terbaik yang bisa saya lakukan. Sebab, dengan begitu, mereka akan bisa bertindak dengan sendirinya.”

Jack Welch barangkali terlahir sebagai pebisnis sekaligus motivator dan inspirator. Dengan sentuhannya, ia mampu mengubah GE menjadi sangat besar di eranya. Tapi, ia tetap rendah hati dengan mengatakan bahwa ia hanyalah mencoba membiarkan talenta-talenta di bawahnya untuk berkembang dengan kemampuan masing-masing. Kata-katanya secara alami mampu membuat orang selalu terdorong rasa percaya dirinya untuk bisa memberikan yang terbaik dari apa yang mereka bisa dan mampu kerjakan.

Sumber: http://www.andriewongso.com

 

7 Karakter Pemimpin Besar

Pusta Hery Kurnia - Personality Traits of a Great Leader

Jika Anda ingin menjadi pemimpin yang bisa menarik orang-orang berkualitas, kuncinya adalah Anda sendiri harus menjadi orang yang berkualitas terlebih dahulu. Kepemimpinan adalah kemampuan menarik seseorang pada sesuatu yang Anda tawarkan sebagai pemilik perusahaan, manager, atau sebagai orang tua. Jim Rohn, seorang pakar motivasi, menyebut kepemimpinan sebagai tantangan yang besar dalam hidup.

Untuk jadi pemimpin, Anda perlu terus mengasah keterampilan. Semua pemimpin besar terus mengembangkan dirinya sampai menjadi efektif. Berikut beberapa caranya:

  1. Belajar menjadi kuat, tetapi bukan kasar. Anda perlu keluar dari zona nyaman Anda untuk menjadi pemimpin yang lebih kuat dan mampu menyelesaikan permasalahan. Beberapa orang salah memahami kata “kuat” dan mengartikannya sebagai bertindak “kasar”. Kuat itu bukan berarti kasar. Bahkan, kuat itu sama sekali bukan kasar.
  2. Belajar bersikap ramah, tetapi bukan lemah. Jangan salah tafsirkan keramahan sebagai kelemahan. Keramahan tidak lemah. Bersikap ramah merupakan salah satu kekuatan pemimpin. Kita perlu bersikap ramah terhadap orang-orang di dalam atau di luar tim. Kita perlu bersikap seramah mungkin saat menceritakan kebenaran pada orang. Kita perlu bersikap ramah dan memperhatikan kepentingan orang lain.
  3. Belajar bersikap yakin, bukan pura-pura berani. Perlu keyakinan untuk mencapai keberhasilan. Untuk mendapatkan pengaruh, Anda harus berjalan di depan tim Anda. Anda harus berani dan mau mengambil kesempatan pertama, mengatasi masalah pertama, menemukan tanda-tanda awal masalah.
  4. Belajar bersikap rendah hati, bukan malu. Anda tidak bisa mencapai sasaran dengan bersikap malu-malu. Rendah hati akan membuat Anda mengambil tindakan, di waktu yang sama Anda mendapatkan respek dari orang. Sedangkan rasa malu akan menghentikan Anda mengambil berbagai tindakan penting, sekaligus Anda akan kehilangan respek. Rendah hati, bukan malu.
  5. Miliki rasa bangga, bukan arogansi. Pemimpin yang berhasil memiliki rasa bangga. Rasa bangga diperlukan untuk membangun ambisi dan keinginan. Rasa bangga dibutuhkan dalam komunitas. Rasa bangga diperlukan untuk mencapai sasaran. Tetapi, kunci menjadi pemimpin besar adalah memiliki rasa bangga tanpa menjadi sombong/arogan. Rasa sombong yang paling buruk adalah kesombongan dari ketidak tahuan. Yaitu ketika Anda tidak tahu yang Anda tidak tahu. Jika seseorang pintar dan sombong, mungkin kita bisa mengerti. Tetapi jika seseorang tidak tahu apa-apa sekaligus dia sombong, ini parah namanya.
  6. Kembangkan rasa humor tanpa mempermalukan diri. Ini sangat penting bagi pemimpin. Orang yang tertawa bersama Anda berarti mereka merasa nyaman berada bersama Anda. Orang yang merasa nyaman akan jauh lebih mudah dipimpin. Tetapi sekali lagi, jangan melakukan humor berlebihan hingga mempermalukan diri Anda.
  7. Terakhir, hadapi kenyataan. Hadapi kenyataan. Terima kehidupan dengan ikhlas. Kehidupan itu unik. Keterampilan yang bermanfaat bagi satu pemimpin belum tentu cocok bagi pemimpin yang lain. Namun, keterampilan dasar kepemimpinan selalu bisa disesuaikan bagi siapa saja: di pekerjaan, di masyarakat, dan di rumah.

10 Kalimat Motivasi Legendaris Jim Rohn

Pusta Hery Kurnia - Kalimat Motivasi Jim Rohn

Siapa di antara Anda yang pernah mendengar nama Jim Rohn? Bagi Anda yang sering membaca buku-buku motivasi dan pengembangan diri saya yakin nama ini sudah tidak asing lagi. Ya, Jim Rohn adalah salah satu motivator paling berpengaruh di dunia, guru Anthony Robbin, motivator Amerika.

Jim Rohn meninggal di tahun 2009. Berarti sudah lebih dari lima tahun. Tetapi, meskipun sudah meninggal, hasil karya Jim Rohn masih terus menginspirasi banyak orang di berbagai negara hingga sekarang. Termasuk juga kalimat-kalimat motivasinya yang sederhana namun mampu membangkitkan semangat. Berikut adalah 10 kalimat motivasinya yang sangat terkenal:

  1. “Jangan berharap segala sesuatu menjadi lebih mudah. Berharaplah agar Anda menjadi lebih baik. Jangan berharap masalah yang Anda hadapi berkurang. Berharaplah Anda memiliki keterampilan lebih. Jangan berharap tidak ada tantangan. Berharaplah Anda diberi kebijaksanaan lebih.”
  2. “Tantangan kepemimpinan adalah Anda perlu menjadi orang yang kuat, tetapi tidak kasar; ramah, tetapi tidak lemah; jadi berani, tapi tidak menindas yang lemah; waspada, tetapi tidak malas; rendah hati, tetapi bukan malu-malu; jadi bangga, tetapi tidak sombong; punya selera humor, tapi tidak terlihat tolol.”
  3. “Kita semua memang harus merasakan salah satu dari dua hal ini: sakitnya hidup disiplin atau sakitnya penyesalan.”
  4. “Hari-hari kita nilainya sangat mahal. Ketika waktu satu hari sudah Anda gunakan, Anda sudah kehilangan waktu satu hari dan tidak mungkin mengharapkannya lagi. Jadi, pastikan Anda menggunakannya dengan bijak.”
  5. “Kedisiplinan adalah jembatan antara goals dan pencapaian.”
  6. “Jika Anda tidak mau mengambil resiko melakukan sesuatu yang tidak biasa, Anda akan dipaksa menerima hal-hal yang biasa.”
  7. “Motivasi adalah hal yang membuat Anda mulai bergerak. Kebiasaan adalah hal yang membuat Anda terus bergerak.”
  8. “Sukses hanyalah beberapa kedisiplinan sederhana yang dilakukan setiap hari.”
  9. “Jangan bergabung dengan orang kebanyakan; Anda tidak akan bertumbuh. Carilah tempat dimana orang memiliki ekspektasi dan tuntutan pencapaian yang tinggi.”
  10. “Belajarlah bagaimana merasa bahagia dengan apa yang sudah Anda miliki saat ini, sambil mengejar semua yang Anda inginkan.”

Success is How High You Bounce when You Hit Bottom

Bagi Anda penggemar klub sepakbola asal Inggris, Chelsea, saya pastikan pagi ini Anda minimal sedang kecewa. Ya, tim kesayangan Anda gagal melaju ke babak Liga Champion berikutnya. Paris Saint Germain (PSG) berhasil menyingkirkan Chelsea (unggul gol tandang) di kandang sendiri. Saya sendiri penggemar Chelsea, dan saya berharap hasil yang berbeda. Di tengah rasa sesak di dada, saya temukan satu pelajaran yang sangat berharga dari pertandingan ini.

Pusta Hery Kurnia - Thiago Silva2

Namanya pertandingan, selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Di balik setiap kemenangan, selalu ada orang-orang yang menunjukkan karakter juara. Dan hari ini saya melihat itu di diri Thago Silva, pemain bertahan sekaligus kapten PSG. Di menit ke 95, Silva melakukan hands ball yang berujung pada tendangan penalty dan gol untuk Chelsea. Gara-gara gol ini, kedudukan menjadi 2-1 untuk keunggulan Chelsea, dan kemungkinan PSG tidak lolos. Saya coba bayangkan berada di posisi Silva, pasti tekanan yang muncul sangat besar. Kemungkinan saya mulai menyalahkan diri, tidak fokus, dan performa di lapangan menurun, apalagi waktu pertandingan sudah hampir habis. Tetapi Silva menunjukkan hal yang sebaliknya. Silva malah terlihat semakin termotivasi, semakin bersemangat untuk membayar kesalahannya. Di menit 113, tandukannya berhasil diselamatkan kiper Chelsea. Dia tidak menyerah, dia coba lagi dan di menit 114, Silva berhasil mencetak gol kemenangan.

Seberapa sering kita melakukan kesalahan, dan terbenam dalam penyesalan? Seberapa sering kita merasa saya banyak lakukan kesalahan, saya pasti akan gagal? Saya tidak selancar rekan-rekan yang lain hari ini, saya tidak layak untuk berhasil? Seberapa sering juga karena rasa bersalah dan kegagalan kita mulai kehilangan motivasi, semangat, dan akhirnya memilih untuk menyerah?

Kesalahan adalah hal yang normal. Kegagalan adalah sesuatu yang biasa terjadi. Michael Jordan, salah satu pemain basket paling sukses di dunia, melakukan lebih dari 9000 kesalahan lemparan bola sepanjang karirnya, tetapi tetap saja dia disebut pebasket sukses. Kuncinya bukan di bagaimana kita tidak pernah salah. Tetapi bagaimana kita bisa bangkit setiap kali kita gagal. Bagaimana kita bisa tetap berdiri tegak dan fokus pada tantangan di depan setelah kita melakukan kesalahan. Bagaimana kita bisa tetap yakin dan optimis “saya akan berhasil”, meskipun posisi kita sulit.

Jenderal George S Patton, jenderal perang tentara Amerika di Perang Dunia II mengatakan “success is how high you bounce when you hit bottom”. Seberapa tinggi Anda bisa bangkit dan melejit setelah jatuh dan gagal. Sahabat, seberapa pun kesalahan, kegagalan yang saat ini Anda alami. Putuskan untuk segera bangkit dan berjuang kembali! Anda pasti bisa raih kemenangan dan kesuksesan.

Oleh: Pusta Hery Kurnia