Meraih Sukses dengan Empat Pilar NLP

Dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) ada istilah empat pilar NLP. Empat pilar ini adalah empat hal yang sangat penting jika Anda ingin berhasil menguasai NLP. Namun bagi saya, empat pilar ini lebih dari sekedar syarat dalam NLP, tetapi empat syarat untuk berhasil dalam bidang apa pun. Untuk lebih mudah memahami, perhatikan kisah berikut.

Seorang pemuda berusia 19 tahun berkeinginan kuat untuk menjalankan bisnis makanan. Ia mulai dengan meminjam uang untuk modal. Modal didapat, Ia pun mulai usaha dengan satu gerobak kecil. Orang belum kenal dengan makanan yang ia jual. Sehingga, hanya sedikit keuntungan yang diperoleh. Pernah suatu hari, setelah lelah berjualan Ia ingin menghibur diri dengan membeli makanan di tempat makan dekat gerobaknya. Ternyata harga makanannya lebih mahal dari keuntungan hariannya.

Businessman-and-escalator2

 

Namun, hasrat untuk berhasil pemuda ini sangat kuat. Ia tau, bahwa perlu fokus. Ia pun mengambil keputusan besar untuk keluar dari kuliahnya. Tentangan dari keluarga tidak menyurutkan langkahnya. Ia memodifikasi gerobak, makanan, melakukan perbaikan di sana-sini. Hingga akhirnya hasil mulai terlihat. Tahun pertama, Ia sudah membuka enam cabang baru. Tahun ketiga cabangnya sudah 25. Ingin usahanya berkembang lebih pesat, ia pun mulai mewaralabakan / franchise usahanya ini. Hingga kini, lebih dari 1000 outlet makanannya tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ke Asia dan Eropa. Siapa pemuda ini? Namanya Hendy Setiono, pemilik Kebab Turki Baba Rafi.

Perjalanan sukses seperti ini sangat menarik untuk kita baca. Tetapi lebih menarik lagi kalau kita bisa pelajari dan copy paste pada kehidupan kita sehingga kita melihat, mendengar dan merasakan perjalanan sukses itu sendiri. Sekarang mari kita pelajari dari kacamata (NLP).

Ada empat hal penting yang dilakukan Hendy Setiono. Pertama, Ia punya goal, sasaran, outcome yang sangat jelas. Stephen Covey mengatakan “begin with the end in mind”, mulailah dari hasil akhir. Untuk berhasil, mulailah dari melihat sasaran, masa depan, hasil akhir apa yang Anda inginkan. Hendy tahu betul apa yang Ia mau. Ia menginginkan dirinya sukses sebagai penjual, pengusaha makanan. Bukan sukses sebagai mahasiswa, atau karyawan. Outcome ini yang membuat ia mencoba, bergerak, berjuang, gagal dan berhasil.

Kedua, ia punya kepekaan, dalam NLP disebut sensory acuity (kepekaan inderawi). Bagaimana kita peka terhadap situasi diri, orang lain, dan berbagai hal di sekeliling kita. Kepekaan ini membantu Hendy untuk mengetahui di mana posisinya dalam pencapaian sasaran itu. Mengapa ia memutuskan untuk meminjam modal hanya 4 juta saja, mengapa tidak mulai bisnis rumah makan yang modalnya ratusan juta. Karena ia sadar betul posisi dirinya saat itu. Ketika membuka 25 cabang di tahun ketiga, Ia paham ini masih belum cukup cepat, dan ia pun memutuskan menggunakan sistem franchise.

Ketiga, Hendy memiliki fleksibilitas tinggi dalam pencapaian sasaran (behavioral flexiblity). Tung Desem Waringin mengatakan “persisten usahanya, fleksible caranya”. Sasarannya tetap, tidak berubah. Yang berubah adalah cara untuk mencapai sasaran tersebut. Hendy memodifikasi gerobak, cara berbisnis bahkan keluar dari kuliah supaya tujuannya tercapai. Diperlukan fleksiblitas tinggi untuk melakukan ini. Banyak orang ketika dihadapkan pada masalah beralasan “Orang tua saya tidak mengijinkan, kuliah saya tidak mendukung, saya tidak ada modal, saya sudah pernah coba dan tidak berhasil”. Selalu alasan, alasan dan alasan. Padahal kalau mau dicari solusi, pasti ketemu. Asal kita siap menyesuaikan diri untuk solusi tersebut.

Dan keempat, Ia mampu membangun relasi (rapport) dengan konsumen, supplier dan investor. Hingdranata Nikolay, pakar NLP, mengatakan “Kata kunci dari rapport adalah trust, rasa percaya”. Hendy mampu mendapatkan kepercayaan dari konsumen untuk tetap beli. Supplier-supplier pun siap mendukung kelancaran operasional usahanya. Hendy pun mampu mendapatkan rasa percaya dari investor-investor yang ikut mengembangkan outlet Kebab Turki Baba Rafi. Dengan keterampilan mendapatkan trust ini, kesuksesan Hendy menjadi semakin berlipat.

Keyakinan saya, Anda pun bisa menggunakan empat pilar NLP ini untuk sukses dalam bidang apa pun. Saya tidak akan menceritakan bahwa ada ratusan ribu atau jutaan orang lain yang sukses melalui empat pilar NLP ini. Entah Anda sebagai pengajar, salesman, manager pabrik, pengusaha, bahkan operator mesin, saya sepenuhnya yakin …

Jika Anda punya outcome yang jelas, kepekaan inderawi, fleksible dan mampu membangun rapport, Anda akan mencapai kesuksesan yang jauh lebih besar.

 

Salam dahsyat!

Pusta Hery Kurnia
Certified NLP Trainer & Professional Coach
https://pustaherykurnia.wordpress.com/
081211668421

REFRAMING, Seni Mengubah Makna

Kemarin saya menonton sebuah film berjudul Thank You for Smoking. Sebuah film yang mengisahkan Nick Naylor, seorang ahli lobi dari perusahaan rokPusta Hery Kurnia - Thank You for Smoking.jpgok. Sebagai pelobi, Nick sangat mahir mengarahkan orang untuk melihat sisi positif dari rokok. Dalam satu adegan Ia disudutkan dengan betapa bahayanya merokok. Merokok dapat menyebabkan kematian. Tetapi Nick justru mengatakan “untuk apa kita berdebat tentang rokok. Sedangkan pembunuh nomor satu di Negara ini bukanlah rokok. Pembunuh nomor satu adalah kolesterol.. Dengan cara ini Nick mengubah sudut pandang orang. Ternyata rokok tidak lebih berbahaya dari kolesterol.

Teknik yang digunakan Nick, dalam NLP disebut reframing. Membingkai ulang suatu hal, melihat dari sudut pandang berbeda, sehingga memiliki makna yang berbeda. Pada dasarnya manusia adalah makhluk makna. Segala sesuatu baru berarti ketika manusia menempatkan makna pada hal tersebut. Kita bisa mengubah makna tersebut dengan memberikan konteks atau bingkai yang berbeda.

Saya sering bertanya kepada peserta di kelas “Menurut Anda, kura-kura cepat atau lambat?” Mayoritas peserta akan menjawab lambat. Kemudian saya berkata “Kalau di dalam air?” Serentak mereka menjawab “Cepaattt”. “Jadi, kura-kura cepat atau lambat?” tanya saya lagi. Mereka mulai mengerti “tergantung di mana tempatnya pak”. Ini juga reframing. Anda lihat dari sudut pandang yang mana.

Dengan reframing, kita bisa mengajak orang lain untuk mengambil makna berbeda dari satu hal yang sama. Sebagai contoh, kemacetan. Apa yang Anda pikirkan tentang macet? Pusing, malas, tidak menyenangkan, mengganggu, dan hal-hal negative lainnya.

Coba sekarang, dapatkah Anda menemukan bingkai, sudut pandang, arti berbeda dari kemacetan ini?

Ya, bagus sekali. Anda akan menemukan makna yang lebih positif dari macet. Misalnya: Anda bisa ngobrol lebih lama dengan rekan bisnis Anda di mobil, bisa mendengarkan CD terbaru yang Anda beli, atau bisa punya waktu privat sendiri dalam mobil Anda. Salah seorang peserta bahkan mengatakan “Justru macet itu bagus. Macet itu seringkali karena banyak truk besar di jalan. Truk besar ini kan keluar dari pabrik hendak mendistribusikan produk. Artinya produk pabrik itu laku terjual. Roda ekonomi di pabrik itu berputar terus. Semakin banyak truk menunjukkan semakin banyak pabrik yang berhasil menjual produknya. Dengan kata lain, macet menunjukkan ekonomi kita sedang bergerak. Justru macet itu bagus”.

Wow.. Luar biasa ya. Dengan melakukan reframing, kita bisa melihat dari sudut pandang berbeda dan mendapat makna yang berbeda sesuai tujuan kita.

Jadi, jika Anda ingin jadi ahli dalam mengubah makna, kuasailah teknik reframing ini mulai dari sekarang.

Salam dahsyat!

Pusta Hery Kurnia
Certified NLP Trainer, Professional Coach

Bukan Warnanya, Tapi Isinya

Beberapa waktu lalu saya melihat tayangan TV Mario Teguh Golden Ways (sekarang sudah jadi Mario Teguh Super Show). Ada seorang yang bertanya kepada pak Mario “Pak, seringkali saya tidak yakin apakah saya bisa sukses. Setiap kali saya melakukan sesuatu, seolah-olah ada yang mengekang saya dan mengatakan bahwa saya tidak akan berhasil. Apakah ini karena orang tua saya yang sejak kecil mengatakan bahwa saya anak yang bodoh?”

Sahabat, banyak orang ingin berhasil dalam hidupnya. Tetapi dalam perjalanan meraih sukses, seringkali mereka dihadapkan pada berbagai peristiwa, situasi, tantangan, yang akhirnya mengendurkan keyakinan diri akan kesuksesan.

Latar belakang ekonomi yang tidak mendukung, latar belakang pendidikan yang buruk, kegagalan saat sedang berusaha, pengalaman masa lalu yang mengganggu, membuat banyak orang lupa bahwa mereka punya hak untuk sukses.

Sering sekali saya dengar orang bilang “saya masih terlalu muda, saya terlalu tua, saya hanya lulusan SMA, saya orang kampung, saya punya sakit tertentu…”

Padahal, bukan latar belakang seseorang yang menentukan dia berhasil atau tidak. Tetapi lebih karena hasrat berhasil, karakter dan sikap mental juara yang terbentuk dalam dirinya. Bukan warnanya, tapi isinya.

Pusta Hery Kurnia - Balon Gas

Di salah satu taman di Amerika, tampaklah seorang penjual balon gas. Ia menjual balon gas berwarna warni, hijau, merah, biru, kuning, putih, dan hitam. Penjual balon ini cerdik. Ketika tidak ada pembeli, ia menerbangkan beberapa balonnya: merah dan biru. Beberapa anak di taman mulai melihat dan berlarian mendatangi penjual balon. Ketika mulai sepi pembeli, penjual balon mulai melepaskan balon yang lain lagi. Kali ini balon warna kuning dan putih. Anak-anak yang sedang bermain di taman pun melihat dan menarik orang tuanya untuk membeli balon tersebut. Begitu seterusnya.

Penjual balon tidak sadar, dari awal dia menerbangkan balon ada seorang anak kecil yang memperhatikan. Anak kulit hitam. Anak ini mendekati penjual dan bertanya “Bu, dari tadi saya perhatikan. Ibu hanya menerbangkan balon yang berwarna merah, biru, kuning atau putih. Tetapi tidak sekalipun menerbangkan balon warna hitam. Kenapa bu?” Pada saat itu, orang kulit hitam masih dipandang sebagai orang terbelakang. Si penjual balon menatap anak itu dan tersenyum. Ia membungkukkan badannya, memegang bahu anak tersebut dan berkata “Nak, balon ini terbang bukan karena warnanya. Tetapi karena isinya”.

Sahabat, Anda bisa terbang, Anda bisa sukses bukan karena warna Anda. Bukan karena latar belakang keluarga, ekonomi, pendidikan atau yang lain. Anda bisa sukses. Anda bisa terbang meraih impian Anda karena isi Anda. Hasrat berhasil, karakter dan sikap mental juara yang ada dalam diri Anda. Itu yang akan mendorong Anda meraih keberhasilan. Dan Anda pasti punya itu. Yakinlah dengan diri Anda.

Bukan warnanya, tapi isinya. Apapun latar belakang Anda, Anda pasti bisa berhasil.

Perlu bukti?

Pusta Hery Kurnia - Lionel Messi

Lionel Messi, dari kecil memiliki kelainan sel yang membatasi tinggi tubuhnya. Sekarang, peraih empat kali gelar pemain terbaik dunia. Oprah Winfrey, berasal dari keluarga miskin dan broken home, mendapat perlakuan tidak pantas dan pemerkosaan sewaktu kecil, sekarang salah satu pembawa acara paling mahal di dunia. Warren Buffett, masa mudanya dipenuhi ketakutan berbicara di depan orang, dia bilang “melamar istri saya saja saya tidak berani”, sekarang salah satu orang terkaya di dunia, pembicara ahli dalam bidang investasi. Contoh dari Indonesia: Mahmudi Fukumoto, lulusan SMA, mantan kuli dan kerja serabutan, sekarang CEO Keihin Group, sebuah perusahaan kontraktor dan bisnis lainnya di jepang. Inul Daratista, penyanyi dangdut dari kampung ke kampung, sekarang salah satu artis dangdut paling terkenal di Indonesia, pemilik jaringan bisnis karaoke yang sangat besar.

Sahabat, apakah orang-orang ini berasal dari latar belakang yang luar biasa? Sempurna? Tentu tidak! Mereka punya masa lalu yang sangat sulit. Tetapi itu tidak menghentikan mereka. Ini yang beda. Orang-orang juara paham betul, bahwa bukan masa lalu yang menentukan keberhasilan mereka. Tetapi keyakinan, keinginan untuk berhasil dan merubah keadaan lah yang jadi penentunya.

Bukan warnanya, tapi isinya.

Apapun latar belakang Anda, kalau Anda punya keyakinan, karakter dan sikap mental juara dalam diri. Anda pasti bisa!

Two Pillars of Trust

Romy RafaelKetika mendengar kata Hipnotis, apa yang ada di pikiran Anda?

Tipu-tipu, sihir, magic, bantuan jin? Banyak orang menganggap hipnotis sesuatu yang bersifat magic, klenik, atau bantuan jin. Tetapi sisi yang berbeda saya temukan ketika mengikuti pelatihan hipnotis & hipnoterapi. Bahkan salah satu sahabat saya, Hari Dewanto, seorang pakar hipnotis, mengatakan bahwa “orang bilang ini magic karena mereka tidak tau caranya. Ini ilmiah sekali. Siapapun bisa belajar dengan cepat. Ini akan jadi seperti magic, kalau mereka tidak tahu caranya”. Menarik sekali rekan-rekan, akan terlihat seperti magic kalau kita tidak tau caranya.

Persis sekali dengan kepemimpinan. Meskipun ini hal yang umum, tetapi banyak orang masih belum tau bagaimana memimpin secara efektif. Kalau ada pemimpin yang bagus, orang sering bilang, itu memang bakat dia, cuma dia yang bisa begitu. Saya baca berita di kompas online tentang Recep Tayyip Erdogan (Presiden Turki). Waktu itu ia berhasil mempersuasi salah satu warga negaranya untuk tidak jadi bunuh diri. Uniknya, ada yang berkomentar “bapak ini menguasai ilmu sugesti pikiran yang sangat kuat”.

Memang menjadi pemimpin yang efektif tidaklah mudah. Hasil survey yang dilakukan MSN.com menunjukkan bahwa 42% manager (orang yang diangkat untuk memimpin tim tertentu) gagal dalam 18 bulan. Gagal disini dalam artian dia tidak capai target, atau tidak ada kemajuan berarti sesuai yang diharapkan, atau tidak bisa memenuhi job descriptionnya. Dari 42% ini, 82% nya gagal salah satunya karena tidak mampu membangun kepercayaan dari tim.

Di sini bisa kita lihat bahwa pemimpin yang efektif harus mampu membangun trust, keyakinan bahwa dia dapat diandalkan, dari anggota tim atau partner kerjanya. Jadi, kalau Anda ingin lebih efektif sebagai pemimpin, Anda harus mampu membangun trust sebagai dasar kepemimpin Anda.

Pusta Hery Kurnia - Trust

Ada dua pilar utama dalam membangun trust.

Yang pertama adalah kompetensi. Orang akan percaya dengan Anda, jika Anda mampu menunjukkan bahwa Anda kompeten di bidang Anda. Anda mampu menjadi pemberi solusi dan menyelesaikan masalah. Salah satu pemimpin yang dipercaya karena kompetensinya adalah Ignasius Jonan. Tahun 2008, ia dipercaya menjabat sebagai direktur utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Waktu itu, KAI merugi 80M, pelayanan konsumen sangat buruk, jadwal kereta api sering telat, punya tiket tapi tidak dapat tempat duduk dalam gerbong, stasiun banyak copet, dll. Dengan perjuangan Jonan mengalihkan fokus pelayanan pada konsumen, menciptakan system jadwal kereta on time, penjualan tiket sesuai jumlah kursi, membentuk polsuska untuk keamanan stasiun dan kereta, dll. Hasilnya? Di tahun 2013, KAI meraup untung 460M! Peningkatan lebih dari 5 kali lipat! Sekarang, KAI menjadi salah satu perusahaan terdepan di Indonesia. Karena kemampuannya mengangkat KAI, Jonan pun dipercaya menjadi Menteri Perhubungan Presiden Jokowi. Jadi, pilar dipercaya yang pertama adalah Anda harus punya kompetensi di bidang Anda.

Yang kedua adalah relasi. Kalau ada orang asing, tiba-tiba datang ke Anda dan pinjam HP, apakah Anda akan memberikannya? Kemungkinan besar tidak. Tetapi kalau yang pinjam HP adalah orang tua Anda, anda akan berikan? Pasti. Bedanya dimana? Relasi. Tingkat kedekatan Anda dengan seseorang menentukan level trust Anda dengan dia. Jika Anda ahli membangun relasi, Anda juga akan cenderung lebih mudah memperoleh trust. Salah satu sahabat saya, Sufriyadi, seorang asisten manajer di perusahaan kelapa sawit. Suatu ketika Ia terlibat perdebatan dengan seorang petani. Petani tersebut memaksa untuk memasukkan buah dibawah standar. Sufri dengan tegas menolak. Petani naik pitam dan mengalungkan parang ke leher Sufri, mengancam akan membunuh. Sufri memandang petani itu dan mengatakan “Bapak bunuh saya, urusan kita belum tentu selesai. Akan ada keluarga dan perusahaan yang cari bapak. Saya hanya menjalankan amanah perusahaan. Kalau saya ijinkan, saya salah, bapak juga salah. Tenang dulu pak. Turunkan dulu parangnya.” Singkat cerita, Sufri berhasil meyakinkan petani. Nah ini yang menarik. Malamnya, Sufri datang ke rumah petani tersebut sambil membawa gula dan kopi. Sambil minum kopi, Sufri berkata “Pak, saya mohon maaf untuk kejadian tadi siang. Saya hanya menjalankan tugas. Bapak pasti paham posisi saya. Justru karena saya peduli dengan bapak saya harus tegas. Sekali lagi saya mohon maaf pak.”. Jadi, pilar ke dua dari trust adalah Anda harus ahli membangun relasi.

Sahabat, kedua pilar ini kompetensi dan relasi, harus Anda kembangkan dengan baik. Trust yang Anda dapat tidak akan maksimal hanya dengan kompetensi atau relasi saja. Harus kedua-duanya. Jika Anda benar-benar menguasai bidang Anda dan mampu menjalin relasi yang baik, Anda akan mudah sekali memperoleh trust. Dan dengan trust ini Anda akan jauh lebih efektif sebagai pemimpin.

A Habit for Positive Mindset

Gates reading book

Menurut Anda, mana yang lebih berkualitas, sepatu buatan Indonesia atau amerika? Baju buatan Indonesia atau Eropa? Printer buatan Indonesia atau Jepang?

Sangat sedikit orang yang menjawab sepatu, baju, atau printer buatan Indonesia punya kualitas yang lebih baik. Padahal, semua barang-barang tersebut diproduksi di Indonesia. Sepatu ada di Bandung, Karawang, atau Subang. Baju di Bandung. Produksi printer di Cikarang. Dengan kata lain, orang Indonesia mampu menghasilkan barang dengan standar kualitas tinggi sehingga bisa dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan asing amerika, Eropa atau jepang. Kualitas Indonesia tidak kalah dari kualitas negara lain, bahkan lebih baik.

Pertanyaanya, mengapa umumnya kita akan menilai kualitas barang Indonesia lebih jelek dibanding negara lain? Mengapa?

Salah satunya karena alam bawah sadar kita mengatakan bahwa kita, Indonesia inferior, bukan siapa-siapa. Kalau disuruh memilih antara pemenang dan pecundang, kita akan jauh lebih mudah untuk mengatakan bahwa Indonesia bukan pemenang. Dengan kata lain kita lebih setuju bahwa Indonesia adalah pecundang. Padahal belum tentu demikian. Pikiran kita, sikap mental kitalah yang membuat kita berpikir demikian. Sikap mental dan pikiran positif sangat menentukan.

Salah satu cara yang sangat powerful adalah dengan punya kebiasaan membaca buku pengembangan diri.

Ada tiga alasan mengapa Anda perlu membaca buku pengembangan diri:

1. Menanamkan pola pikir positif

Ayah saya berusia sekitar 65 tahun. Ia menderita sakit tremor lengan kanan. Sakit ini membuat seolah-olah ada yang salah dengan hidupnya. Ia susah sekali tersenyum. Terlihat stress. Jadi saya belikan buku berjudul Happiness Café. Buku ini menceritakan banyak sekali kisah orang-orang yang cacat, tetapi bisa menikmati hidup dan menginspirasi orang lain. Jessica Cox, menerbangkan pesawat hanya dengan kaki, Nick Vujicic, menaklukan dunia tanpa lengan dan kaki. Ayah saya terlihat asik sekali membacanya, kemudian saya tanya “apa yang menarik dari buku ini?”. Ayah saya bilang “Ternyata banyak yang lebih kurang beruntung dibanding saya. Saya harus lebih berpikir positif”. Lihat, membaca buku yang tepat akan dengan cepat membuat Anda jauh lebih positif.

2. Mengembangkan sikap mental pemenang

Siapa di antara Anda suka pergi ke gym? Body building bertujuan mengembangkan otot tubuh. Semakin sering Anda berlatih, semakin besar otot tubuh Anda. Membaca itu seperti body building. Kalau body building mengembangkan otot tubuh, membaca mengembangkan otot mental Anda. Semakin banyak membaca, semakin kuat otot mental Anda. Membaca buku seperti Berpikir dan Berjiwa Besar, It’s not how good you are, it’s how good you want to be, akan memberikan pemahaman baru bahwa Anda adalah seorang pemenang, Anda diciptakan untuk menang. Jadi ketika Anda menghadapi tantangan Anda punya keyakinan yang tinggi bahwa Anda akan menang menghadapi tantangan.

3. Mempercepat Anda meraih sukses

Thomas Corley meneliti kebiasaan 233 multi milyarder dan 128 poor people. Ternyata 88% orang yang sangat kaya biasa membaca buku minimal 30 menit sehari. Hanya 2% orang miskin yang biasa baca buku. Jelas sekali perbedaanya. Orang kaya tau bahwa Success leaves track. Kalau kita mau berhasil, ikuti saja jejak orang yang sudah berhasil. Dengan mengikuti jejak yang sudah dibuat, siapapun akan lebih cepat sampai. Nah, orang yang sangat sukses banyak meninggalkan jejak-jejak mereka lewat buku dan tulisan. Anda tidak perlu lagi terlalu lama coba dan gagal, tinggal ikuti tips praktis yang sudah disarankan. Ini membuat Anda jauh lebih cepat mencapai keberhasilan.

Charlie Jones, a motivational speaker said “You’ll be the same in five years as you are today, except for the people you meet and the books you read”.

Sahabat, kapan terakhir kali Anda baca buku pengembangan diri? buku apa yang Anda baca sekarang? Seberapa sering Anda memilih untuk membaca buku pengembangan diri ketimbang artikel bola atau berita terbaru detik.com?

Bayangkan jika Anda mulai kebiasaan membaca buku pengembangan diri 15 – 30 menit saja sehari. Betapa positifnya, betapa kuatnya otot mental Anda. Betapa Anda akan jauh lebih berani, lebih yakin saat menghadapi tantangan, lebih cepat menapaki jalur kesuksesan Anda. Dan yang lebih penting lagi, kalau Anda bisa menularkan kebiasaan ini ke saudara-saudara kita orang Indonesia. Suatu nanti kita akan bisa melihat, mendengar, merasakan orang Indonesia dengan tegas berkata “Indonesia is not inferior. Indonesia is a great country”.

Habit of Highly Rich People

Pusta Hery Kurnia - Brian Tracy

Kebiasaan adalah sesuatu yang Anda lakukan berulang-ulang, terus menerus, sehingga tidak perlu mikir keras pun Anda sudah bisa lakukan dengan benar. Ketika saya kuliah di UPI Bandung, saya setiap hari selalu lewat Jalan Abdul Rivai terus belok ke cipaganti. Suatu ketika saya harus mampir ke rumah teman di Jln Dr Cipto. Saya jalan lewat Abdul Rivai, tanpa sadar saya langsung belok ke arah Cipaganti. “Lho saya kan mau mampir dulu, kenapa jadi belok lewat sini? Kan harusnya lurus tadi ya. Haduh..” Ini namanya kebiasaan, habit. Sudah otomatis. Saking biasanya, Anda tidak perlu mikir untuk melakukan.

Tahukan Anda bahwa setiap orang mengembangkan habit tertentu? Teman saya sering bilang “kalau habis makan itu rasanya kurang nikmat kalau belum ngerokok”, ini habit, habit ngerokok. “Ah, ntar dulu deh ngerjainnya. Main dulu sebentar. Ini habit, habit menunda. Atau “nanti dulu berangkatnya, nunggu pas waktunya. Ini juga habit, habit datang telat. Menariknya di Indonesia habit ini sangat terkenal, sampai-sampai dia jadi pencipta lagu dan penyanyi, Ebiet G Ade, kupu-kupu kertas.

Brian Tracy, salah satu motivator dan pakar pengembangan diri dunia, mengatakan bahwa “Successful People are simply those with successful habits”. Jadi, orang-orang yang sangat sukses, sangat kaya pun punya habit / kebiasaan sendiri.

Habit ini didokumentasikan dengan sangat baik oleh Tom Corley, penulis buku Rich Habits – The Daily Success Habits of Wealthy Individuals. Ia melakukan penelitian selama lima tahun. Selama lima tahun tersebut, Tom mengamati dan mencatat aktivitas keseharian dari 233 orang yang sangat kaya, termasuk Carlos Slim, Bill Gates, Amancio Ortega, dan Warren Buffett, serta 128 orang yang tinggal dalam kemiskinan. Tom menemukan bahwa ada lebih dari 300 perbedaan aktivitas kebiasaan orang yang kaya dan yang kurang mampu.

Kebiasaan Setting Target

Salah satu habit yang sangat penting adalah orang kaya menentukan target.

67% orang kaya menuliskan sasaran mereka, bandingkan dengan orang yang kurang kaya yang hanya 17%. Menuliskan sasaran membuat Anda jauh lebih fokus dalam mencapai sesuatu. Ibarat sinar matahari, jika difokuskan mampu membakar kertas. Sama halnya dengan kita. Jika kita fokus pada target yang jelas, berbagai potensi diri akan muncul demi tercapainya sasaran.

Salah satu contoh bisa kita lihat dari Jim Carrey. Jim terkenal dari film-filmnya seperti The Grinch, The Truman Show and Ace Ventura, Pet Detective, dan the Mask. Sebelum Jim ikut casting Living Color, sebuah pertunjukkan komedi, Jim baru saja ditolak oleh acara yang lain, Saturday Night Live. Acara ini adalah peluang yang diimpi-impikan Jim. Dalam masa sulitnya, saat tidak ada panggilan casting dan audisi Jim sampai harus tidur di mobil dan tidak punya uang untuk membeli makanan. Menariknya, suatu hari Jim menuliskan sebuah cek untuk dirinya sendiri dan membawanya ke manapun. Setiap kali ia mengalami masa sulit dan penolakan, Jima mengeluarkan cek tersebut dan melihatnya. Jim memvisualisasikan, membayangkan betapa hebatnya apabila ia suatu saat nanti mencairkannya.

Jim mengatakan “Saya menuliskan cek sepuluh juta dolar untuk saya sendiri sebagai bayaran jasa acting dan menuliskan tanggal Thanksgiving 1995. Saya masukkan dompet, makin lama jadi lusuh. Tepat sebelum Thanksgiving 1995, saya baru sadar bahwa saya akan mendapatkan 10 juta dolar untuk Dumb & Dumber.”

Jim Carrey membuktikan the power of setting goal dalam mencapai kesuksesan financial.

Menariknya, ada rekan saya yang bilang “hidup itu mengalir saja. Tidak usah terlalu di atur. Kita ikuti saja”. No no no.. Bagaimana kalau mengalirnya ke comberan, apa kita mau ikut aja? Tentu tidak bukan?

Kita punya pilihan. Success leaves track. Ikutilah track orang-orang kaya. Lakukan kebiasaan orang kaya. Tentukan sasaran Anda dalam kehidupan. Apa yang ingin Anda capai dalam 2-3 bulan, 2-3 tahun, 5 – 10 tahun ke depan. Anda mau dipromosi jadi apa, ingin menjadi apa, ingin punya penghasilan berapa, ingin punya apa? Tuliskan sasaran Anda dan fokus buat action plan untuk mencapai sasaran tersebut.

Seperti yang dikatakan Tony Robins “Setting goals is the first step in turning the invisible into the visible.”

Jika Anda melakukannya secara konsisten, lagi dan lagi dan lagi dan lagi, Anda akan memiliki habits yang sama dengan orang-orang kaya, orang yang sangat sangat sukses, dan akan mengantarkan Anda juga pada kondisi yang sama, sukses dan kaya.